Tampilkan postingan dengan label Watchman Nee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Watchman Nee. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

AJARLAH KAMI MENGHITUNG HARI - HARI KAMI

Oleh Watchman Nee


"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12)


"Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:16,17)

"Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentaraKu yang besar yangKukirim ke antara kamu." (Yoel 2:25)


Sebagaimana tercatat di dalam kitab Mazmur, Musa berdoa kepada Allah, "Ajarlah kami menghitung ha
ri-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."


Menurut perhitungan kalender, hari-hari yang kita lalui dapat dihitung dengan mudah, karena satu hari berarti satu hari dan satu tahun berarti satu tahun.Tetapi menurut perhitungan Allah, beberapa hari diperhitungkan sementara beberapa hari lainnya tidak diperhitungkan, melainkan ditolak. Karena hari-hari kita di dunia ini terbatas, kita perlu belajar bagaimana cara menghitungnya supaya bisa menyenangkan Tuhan dan supaya setiap hari dan setiap tahun senantiasa dikuduskan olehNya. Itulah masalah yang akan kita bahas.

Satu
Di dalam Kejadian 4 dan 5 kita melihat dua garis keturunan. Di dalam pasal empat ada daftar keturunan Kain, dan di dalam pasal lima terdapat daftar keturunan Set. Cara pencatatan kedua garis keturunan ini benar-benar berbeda. Yang dari Kain sangat singkat: tidak ada catatan tentang usia Kain dan keturunannya.Tetapi keturunan Set dicatat dengan lebih jelas: namanya disebut dengan jelas, usianya pada saat memiliki keturunan, dan usia yang dicapainya sebelum akhirnya meninggal. Generasi demi generasi, tahun-tahun usia tersebut dicatat dengan teliti. Dari kedua garis keturunan ini - satu singkat dan satu lengkap - kita dapat menemukan dasar yang dipakai Allah untuk menghitung hari-hari kita. Alasan mengapa garis keturunan Kain begitu singkat adalah karena ia berdosa terhadap Allah dan terpisah jauh dari Allah, tidak memiliki persekutuan denganNya.

Di pihak lain, garis keturunan Set tercatat lengkap karena ia telah menggantikan Habel dan telah bersekutu dengan Allah dan Allah senang dengannya. Jadi dapat dikatakan bahwa usia rohani kita dihitung berdasarkan kondisi rohani kita di hadapan Allah. Pada saat kita jauh dari Dia, mati di dalam dosa dan pelanggaran, hari-hari kita tidak dihitung di hadapan Allah. Usia rohani kita mulai diperhitungkan pada saat kita bertobat, pada saat kita berbalik kepada Tuhan, yaitu pada saat kita mulai bersekutu denganNya.

Pada saat anak-anak Israel ke luar dari Mesir Allah memerintahkan mereka, "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun." (Keluaran 12:2). Bulan pertama adalah awal tahun, dan merupakan awal perhitungan kalender. Di dalam bulan inilah anak-anak Israel menyembelih domba Paskah, keluar dari Mesir, dan terlepas dari tangan Firaun. Kemudian Allah menetapkan bulan yang khusus ini sebagai awal tahun. Selanjutnya mereka memiliki sesuatu yang baru di hadapan Allah.

Izinkan saya bertanya kepada Saudara, Berapa usia rohani Saudara? Beberapa orang mungkin secara fisik berumur 50 atau 60 tahun, tetapi usia rohaninya mungkin cuma satu tahun, atau bahkan satu bulan. Usia rohani seseorang dihitung hanya pada saat ia lahir baru. Pada saat Saudara menerima keselamatan dari Tuhan, pada saat itulah Saudara memulai sejarah kerohanian Saudara. Sebelum saat itu, Saudara tidak mempunyai usia rohani yang dapat diperhitungkan di hadapan Allah. Lebih jauh, bahkan setelah Saudara percaya kepada Tuhan, tidak berarti setiap hari atau setiap tahun langsung dihitung.

Mungkin Saudara telah percaya Tuhan selama lima tahun penuh, tetapi belum
tentu kekristenan Saudara di hadapan Allah juga berusia lima tahun. Artinya, beberapa hari yang Saudara miliki setelah menjadi Kristen ada yang tidak dihitung. Di dalam Alkitab kita dapat melihat bahwa hari-hari tersebut diabaikan dan tidak dicatat, karena Allah menganggapnya sebagai hari-hari yang terbuang, oleh sebab itu tidak diperhitungkan.


Dua
Mari kita lihat berapa tahun waktu yang ada dari sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sampai permulaan pembangunan bait suci oleh Salomo.

"Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul bin Kisy dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka...." Kisah Para Rasul 13:18-22a.

Daud memerintah selama 40 tahun (lihat II Samuel 5:4). Jadi, berapa tahun waktu yang ada dari sejak keluarnya bangsa Israel sampai tahun ke empat pemerintahan Salomo pada saat ia mulai membangun bait suci? 40 tahun + 450 tahun = 490 tahun; tambahkan dua kali 40 tahun (pemerintahan Saul dan Daud) akan menghasilkan 570 tahun; tambahkan lagi tiga tahun pemerintahan Salomo sebelum ia mulai mendirikan bait suci, akan menghasilkan total 573 tahun. Tetapi di dalam I Raja-raja 6:1 dikatakan: "Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada tahun keempat sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi TUHAN." Di sini tercatat 480 tahun, bukan 573 - ada selisih 93 tahun!

Mengapa ada perbedaan? Apakah catatan pada kitab Kisah Para Rasul tidak benar, atau justru kitab I Raja-raja yang salah? Tidak, keduanya tidak salah. Di balik perbedaan tahun antara catatan yang ada pada kedua kitab ini terdapat satu prinsip rohani yang sangat penting. Dengan membandingkan catatan pada Kisah Para Rasul dengan yang ada di dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa 40 tahun di padang gurun, 40 tahun pemerintahan Saul, 40 tahun pemerintahan Daud, dan 3 tahun pemerintahan Salomo sebelum ia memulai pembangunan bait suci, tidak perlu diragukan lagi. Yang menjadi masalah adalah 450 tahun. Pada rentang waktu tersebut, angka yang ada di I Raja-raja ternyata 93 tahun lebih kecil dari yang ada di Kisah Para Rasul.

Bagaimana kita bisa menghitung angka 93 tahun yang nampaknya hilang ini? Melalui kitab Hakim-hakim kita akan menemukan bahwa selama tahun-tahun tersebut anak-anak Israel ada dalam keadaan ditekan, dijajah oleh bangsa-bangsa asing beberapa kali. Jadi, mari kita lihat di dalam kitab Hakim-hakim berapa tahun lamanya bangsa Israel
mengalami penjajahan.

"Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya." (Hakim 3:8). Inilah penjajahan pertama yang dialami Israel, yang berlangsung selama delapan tahun.

"Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab." (Hakim 3:14). Ini adalah penjajahan kedua, yang berlangsung selama 18 tahun.

"Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim. Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras." (Hakim 4:2,3). Ini adalah penjajahan ketiga yang dialami bangsa Israel, yang berlangsung selama 20 tahun.

"Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya," (Hakim 6:1). Ini penjajahan keempat yang berlangsung selama tujuh tahun.

"Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya." (Hakim 13:1). Ini adalah penjajahan kelima yang dialami bangsa Israel, dimana mereka melayani bangsa Filistin selama 40 tahun.

Jadi, berapa tahun Israel lima kali dijajah oleh bangsa-bangsa asing ini? 8 tahun + 18 tahun + 20 tahun + 7 tahun + 40 tahun = 93 tahun, tidak kurang dan tidak lebih. Dengan demikian, kita sudah menemukan jawabannya. Di dalam Kisah Para Rasul Paulus menceritakan sejarah bangsa Israel; jadi, ia memasukkan angka 93 tahun ini. Tetapi, di dalam I Raja-raja, yang ditekankan adalah kondisi anak-anak Israel di hadapan Allah, jadi angka 93 tahun ini tidak diperhitungkan.

Kenyataan bahwa angka 93 tahun ini tidak dihitung merupakan hal yang sangat penting. Ini adalah tahun-tahun yang hilang, karena pada saat anak-anak Israel kehilangan kemerdekaan mereka dan kemudian melayani bangsa-bangsa kafir serta tidak memiliki hakim di dalam bangsa mereka sendiri, tahun-tahun mereka sama sekali tidak dihitung. Mereka adalah orang-orang milik Allah yang telah keluar dari Mesir. Tetapi pada saat mereka diperintah musuh mereka - menjadi hamba dan di bawah perbudakan lagi - mereka tidak dapat melayani Allah dengan bebas. Oleh karena itu hari-hari tersebut tidak pernah dihitung: hari-hari dimana mereka tidak melayani Allah, tetapi melayani orang lain, secara otomatis dianggap hilang, dan akibatnya Allah tidak menghitungnya.

Di sinilah kita harus berhenti sebentar dan mulai berpikir, berapa hari - sejak kita diselamatkan sampai saat ini - yang benar-benar diperhitungkan Tuhan. Mungkin Saudara sudah percaya Tuhan selama delapan atau sepuluh tahun, tetapi berapa banyak dari tahun-tahun tersebut yang pada kenyataannya dilalui dengan kebodohan? Berapa besar pemotongan yang sudah dilakukan pada hari-hari terakhir kita? Oh, kita telah menyia-nyiakan begitu banyak waktu! Mungkin kita akan terkejut ketika, dari sekian banyak tahun yang kita lalui, sejumlah hari yang cukup banyak hanya dapat menjadi satu tahun di hadapan Allah! Kita harus menyadari bahwa hari-hari dimana kita hidup menurut keinginan manusiawi kita sendiri, terpisah dari Allah, kalah dan jatuh, tidak akan dihitung oleh Tuhan. Hendaknya kita dengan jujur bertanya kepada diri kita sendiri: saya sudah menjadi Kristen selama beberapa tahun, tetapi berapa banyak dari tahun-tahun tersebut telah disia-siakan, dan berapa banyak yang diperhitungkan Tuhan? Hendaknya kita benar-benar menyadari bahwa semua hari pada saat kita kehilangan persekutuan dengan Tuhan tidak diperhitungkan. Tidak ada yang dapat menggantikan waktu tersebut.

Tiga
Jangan menyangka bahwa hari-hari yang hilang tersebut tidak akan berjumlah banyak, karena nampaknya hari-hari tersebut cuma beberapa hari yang terhambur di sana sini. Sebab jika kita coba melihat perjalanan bangsa Israel di padang gurun, kita akan melihat betapa seriusnya hari-hari yang terbuang percuma. Pada bulan ketiga setelah mereka keluar dari Mesir mereka tiba di Gunung Sinai (lihat Keluaran 19:1). Mereka tinggal di Sinai selama sepuluh bulan, tetapi pada hari kedua puluh dari bulan yang kedua pada tahun yang kedua setelah mereka keluar dari Mesir mereka meninggalkan Sinai dan melanjutkan perjalanan ke arah tanah yang telah Allah janjikan sebagai milik pusaka mereka (Bilangan 10:11,12).

Tercatat di Alkitab bahwa jarak dari Horeb ke Kadesy-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir, hanya memerlukan "sebelas hari" perjalanan (Ulangan 1:2). Harap diingat bahwa Kadesy-Barnea ada di perbatasan dari tanah Kanaan. Jadi, setelah meninggalkan Gunung Sinai, anak-anak Israel dapat segera memasuki tanah Kanaan setelah sebelas hari perjalanan. Tetapi karena ketidakpercayaan mereka, mereka tidak memasuki tanah Kanaan setelah mencapai Kadesy-Barnea, melainkan mengembara di padang gurun selama 38 tahun sebelum keturunan mereka pada akhirnya memasuki Tanah Perjanjian. Betapa besar lingkaran perjalanan yang mereka buat! Bukan tiga atau lima tahun, tetapi 38 tahun. Pada mulanya mereka dapat segera memasuki Tanah Perjanjian dalam dua tahun setelah meninggalkan Mesir; tetapi, selanjutnya mereka harus melalui 38 tahun lagi.

Oh, betapa banyak hari-hari yang telah kita buang di dalam perjalanan rohani kita! Sementara sebuah masalah mungkin dapat diselesaikan dalam tiga atau lima hari, pada beberapa orang hal itu dapat tetap tidak terselesaikan sampai tiga atau lima tahun. Situasi yang demikian tidak berbeda dengan apa yang dihadapi anak-anak Israel yang berputar-putar di padang gurun menghabiskan waktu bertahun-tahun. Kehilangan tersebut benar-benar besar, dan seharusnya jangan pernah dianggap tidak berarti.

Empat
Dalam kehidupan Abraham kita dapat melihat dengan jelas berapa banyak dari hari-harinya dihitung dan berapa banyak yang tidak dihitung. Menurut Kisah Para Rasul 7:2,3, sementara Abraham di Mesopotamia, Allah menampakkan diri kepadanya dan berfirman: "Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu."

Bagaimana reaksi Abraham? Jika ia tidak menuruti perintah Allah sama sekali, ia akan merasa tidak enak di dalam hatinya; tetapi mengikuti sepenuhnya apa yang dikatakan Allah, ia merasa enggan. Jadi ia hanya taat sebagian. Allah menyuruh Abraham untuk meninggalkan keluarganya, tetapi ia membawa keluarganya bersama-sama dengan dia ia membawa keponakannya, Lot, dan ayahnya, Terah, bersama-sama dengannya. Lebih jauh, rencana Allah adalah agar Abraham langsung pergi ke Kanaan, tetapi ia berhenti di Haran (lihat Kejadian 11:3). Sikap yang demikian adalah gambaran yang tepat dari orang Kristen yang mendua hati. Abraham seperti itu. Benar, ia memang keluar dari Ur- Kasdim, tetapi ia berhenti di tengah perjalanan ke Kanaan. Ia bersikap seperti orang Kristen yang setengah hati mengikut Tuhan.

Setelah kematian ayahnya, Terah, Allah memanggil Abraham kembali (lihat Kejadian 12:1). Kali ini Ia memanggilnya di Haran. Rencana Allah tidak pernah berubah. Sekali Ia memutuskan sesuatu, Ia pasti akan melaksanakannya. Karena Allah ingin Abraham pergi ke Kanaan, Ia tidak akan mengubah pikiranNya sekalipun Abraham menundanya di
Haran. Pada panggilan Allah yang pertama, Abraham hanya taat setengah. Jadi Ia memanggilnya lagi. Selanjutnya tercatat di Alkitab bahwa ketika Abraham mentaati Allah dan meninggalkan Haran, ia berumur 75 tahun pada saat itu (lihat Kejadian 12:4). Harap diingat bahwa tidak ada catatan usianya pada saat ia berada di Haran. Hanya pada saat ia keluar dari Haran menuju Kanaan, umurnya yang 75 tahun disebutkan. Saya percaya, hal ini menunjukkan kepada kita permulaan dari hari-harinya yang baru. Hari-hari Abraham di Haran, pada saat ia berhenti dalam perjalanannya memenuhi kehendak Allah, adalah hari- hari yang hilang; karenanya, tidak dicatat.

Pada saat kita melihat kembali ke sejarah masa lampau kita, betapa banyak yang telah hilang! Kita perlu belajar dari kehidupan Abraham bahwa semua hari-hari di tempat-tempat seperti Haran diabaikan Tuhan. Seringkali kita berjalan menurut keinginan kita sendiri dan mencari kemudahan dan kenikmatan. Kita berhenti dan menetap di tengah perjalanan. Ini adalah hari-hari di Haran dan tidak akan diperhitungkan. Untuk diberkati Tuhan, kita - seperti Abraham - harus keluar dari Haran. Pada saat Abraham berumur 75 tahun, pada tahun itu ia meninggalkan Haran. Alkitab mencatatnya, karena Allah menganggapnya layak untuk diperhitungkan. Hal ini menyingkapkan betapa Ia menginginkan ketaatan yang penuh dari manusia.

Tetapi Abraham tidak cuma sekali kehilangan beberapa dari hari- harinya. Ia juga menderita kehilangan ketika memperoleh keturunan. Allah telah menjanjikan seorang anak kepadanya; tetapi, ia mengambil hambanya Hagar sebagai gundik dengan seijin isterinya.

Abraham melakukan dosa yang terlalu berani di hadapan Allah. Kemudian, Hagar melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi anak laki- laki ini lahir melalui kekuatan daging Abraham, bukan melalui janji Tuhan. Sesuai dengan itu, kita melihat di akhir kitab Kejadian pasal 16 bahwa umur Abraham 86 tahun dan pada permulaan pasal 17 umurnya disebutkan 99 tahun. Tiga belas tahun hilang dari catatan. Selama 13 tahun ini, tidak ada catatan mengenai dia. Tidak ada altar yang dibangun Abraham, juga tidak ada catatan bahwa Allah menampakkan diri atau memberi wahyu atau janji kepada Abraham. Ini adalah hari-hari yang kosong, seolah-olah tidak pernah ada. Selama hari-hari ini, Ismael bertambah besar. Jadi, tahun-tahun ini di dalam kehidupan Abraham merupakan tahun-tahun yang sia-sia dan hilang.

Saudara-saudara, selama tahun-tahun yang ada pada Saudara, apakah Saudara mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, wahyu-wahyu baru dan firman-firman baru dari Tuhan? Adakah seseorang yang dilepaskan melalui Saudara? Adakah seseorang yang ditolong Saudara? Apakah Saudara memiliki pengenalan akan Allah yang lebih dalam? Apakah Saudara sedang menerima jaminan-jaminan baru tentang janji-janji Tuhan? Apakah Saudara mengalami persembahan hidup yang diperbaharui di hadapanNya? Jika Saudara tidak mengalami hal-hal yang demikian, maka hari-hari yang Saudara miliki tersebut adalah hari- hari yang hilang. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang terbuang.

Seorang Saudari yang lebih tua suatu saat berkata bahwa "bagi seorang Kristen, cara untuk membalas apa yang telah Tuhan perbuat adalah membuat setiap hari diperhitungkan". Betapa menyedihkan bahwa kadang-kadang di dalam perjalanan kekristenan kita sepuluh hari dilalui tanpa memberikan tambahan satu hari pun di hadapan Allah! Hendaknya kita menjadi orang Kristen yang rajin hari demi hari. Jika kita melalui hari-hari kita dengan bodoh - yaitu, jika kita berontak kepada Tuhan, melakukan dosa, atau berjalan mengikuti keinginan diri kita sendiri - hari-hari kita semuanya akan terbuang sebagaimana yang Allah tetapkan. Sangat mengerikan.

Walaupun demikian, mengapa Alkitab mencatat usia Abraham 99 tahun? Karena pada tahun tersebut ia menerima hukum sunat dan setahun kemudian ia mendapat Ishak. Arti sunat adalah membuang kedagingan.

Jika kita berjalan di dalam kedagingan, hari-hari kita akan terbuang. Hendaknya kita membuang semua yang berasal dari kedagingan dan mempersembahkan sepenuh diri kita di atas altar sehingga kita tidak lagi membuang-buang waktu kita. Janganlah kita kehilangan 49 tahun dari 50 tahun milik kita. Marilah kita ingat betapa banyaknya hari-hari yang telah dilalui dengan kebodohan dan berapa hari yang masih tersisa. Jika setiap hari kita menanti kedatangan Tuhan, kita harus hati-hati dalam kehidupan sehari-hari kita.

Lima
Tuhan menceritakan sebuah perumpamaan, seperti yang tercatat di dalam Matius 20, tentang seseorang yang keluar beberapa kali untuk mendapatkan pekerja-pekerja bagi kebun anggurnya. Mari kita perhatikan khususnya satu kata yang ada di dalam perumpamaan tersebut: "menganggur" (ayat 3 dan 4a). "Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? .... Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku." (ayat 6, 7).

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa Allah tidak ingin kita menganggur; Ia ingin kita bekerja. Lebih jauh, perumpamaan ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Allah mempunyai lapangan pekerjaan yang telah Ia tentukan, yaitu kebun anggur. Mungkin Saudara akan berkata bahwa Saudara begitu sibuk dan tidak ada waktu. Tetapi dimana Saudara begitu sibuk? Jika Saudara tidak bekerja di kebun anggur, apa bedanya dengan "menganggur"? Jika Saudara tidak hidup di dalam kehendak Allah, dalam pandangan Allah Saudara dianggap menganggur, tidak menjadi soal berapa banyak pekerjaan lain yang sedang Saudara kerjakan. Atau mungkin Saudara terikat kesibukan di dalam apa yang disebut dengan pekerjaan rohani, tetapi Allah bisa tetap berkata kepada Saudara: "Mengapa kamu menganggur? Pekerjaan yang dilakukan di luar kebun anggur ini bukan berasal dari Aku." Walaupun mungkin Saudara sangat sibuk, di hadapan Allah Saudara cuma menganggur. Hanyalah pekerjaan yang dilakukan di dalam kebun anggur yang diperhitungkan oleh Dia. Jika pekerjaan Saudara dilakukan di luar kehendakNya, semua hari-hari yang Saudara lalui pada pekerjaan tersebut dianggapNya sebagai hari-hari yang kosong, sebagai hari-hari pengangguran.

Perkataan tuan rumah kepada mereka yang menganggur pada pukul lima petang adalah: "Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?" "Sepanjang hari" berbicara tentang suatu masa kehidupan. Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara menganggur sepanjang hidup Saudara? Ataukah Saudara bekerja di kebun anggur? Jangan salah mengerti, saya tidak menganjurkan bahwa Saudara harus berhenti dari pekerjaan Saudara dan kemudian berkotbah.

Yang paling penting adalah apapun yang kita lakukan haruslah jelas bahwa kita berada di dalam kehendak Allah. Bekerja di dalam kebun anggur berarti bekerja di dalam kehendak Allah. Di dalam kebun anggurNya ada berbagai macam pekerja: beberapa pekerja sedang mencangkul, beberapa sedang menyebarkan benih, dan beberapa sedang melakukan perbaikan. Tidak menjadi soal pekerjaan apa yang sedang dikerjakan, yang penting semuanya dikerjakan untuk mendatangkan kebaikan bagi kebun anggur tersebut. Jadi, jangan kita menjadi begitu eksklusif sehingga menganggap bahwa hanya pekerjaan-pekerjaan tertentu yang dikerjakan oleh orang-orang tertentu saja yang dapat disebut pekerjaan Allah. Tidak! Selama hari-hari tersebut dilakukan di dalam kebun anggur, hal itu akan dicatat.

Mungkin Saudara sudah diselamatkan selama tiga atau lima tahun, atau bahkan sepuluh atau 20 tahun. Tetapi, berapa banyak dari waktu Saudara yang digunakan untuk Allah? Tidak dapat diragukan bahwa Saudara sudah banyak bekerja, tetapi untuk siapa Saudara bekerja? Semua menjadi baik jika Saudara tahu dengan pasti bahwa Saudara sedang mengerjakan apa yang Allah kehendaki. Allah tidak menghendaki setiap
orang Kristen untuk melepaskan pekerjaannya dan berkotbah sepenuh waktu. Beberapa orang yang sedang full-time mengabarkan Injil pun belum tentu berada penuh di dalam kehendakNya. Karenanya, pertanyaannya adalah: apakah sikap hati Saudara terhadap kehendak Allah? Hal ini jelas membuat persembahan hidup menjadi sesuatu yang sangat penting. Jika Saudara hanya mempunyai sedikit hati untuk Allah sejak diselamatkan, kehidupan Saudara dianggap tidak ada artinya, dianggap menganggur.

Enam
"Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya." (I Korintus 3:1,2).

Paulus menuliskan hal ini kepada orang-orang kudus di Korintus. Sejauh ini sebagaimana yang kita ketahui, hanya beberapa tahun waktu yang ada dari sejak pertama kali Paulus berkotbah di Korintus sampai ia menulis suratnya yang pertama ini kepada jemaat di Korintus. Waktu itu Paulus sudah merasa bahwa orang-orang kudus di Korintus belum bertumbuh sebagaimana seharusnya. Walaupun mereka baru menjadi Kristen beberapa tahun, Paulus tidak memaklumi mereka karena masih bersifat kekanak-kanakan. Sebaliknya, ia menegor mereka karena membuang-buang banyak waktu dengan percuma, karena seharusnya mereka telah bertumbuh tetapi ternyata tidak. Menurut pendapat Paulus orang-orang muda rohani ini seharusnya sudah cukup kuat dan mampu untuk makan daging, tetapi mereka telah menyia-nyiakan waktu begitu banyak sehingga masih tetap dalam keadaan bayi. Seharusnya mereka sudah cukup berpengalaman dalam jalan Tuhan - baik dalam hal ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan - sehingga bisa menjadi pengajar bagi yang lain, tetapi mereka masih belum bisa diandalkan, sama seperti sebelumnya. Benar, mereka baru menjadi Kristen selama beberapa tahun, tetapi Paulus sangat merasa bahwa seharusnya mereka tidak lagi bayi.

Ada sesuatu di sini yang harus kita camkan. Jika kita berpikir bahwa kita dapat tinggal terus dalam keadaan bayi karena kita belum terlalu lama diselamatkan, kita benar-benar tersesat. Berapa lama kita sudah hidup sebagai orang Kristen? Jika kita telah percaya Tuhan selama delapan atau sepuluh tahun tetapi tidak ada perbedaan dari sejak kita lahir baru, jika kita masih tetap bersifat kedagingan, itu artinya kita telah mengabaikan sebagian besar dari hari-hari kita.

Berapa lama seseorang dapat hidup di dunia? Secara normal, hanya 70 atau 80 tahun. Karenanya, betapa singkat hari-hari kita. Berapa hari yang tersisa setelah dikurangi dengan hari-hari ketika kita belum diselamatkan? Dan lagi, apakah ada di antara kita yang tahu berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini? Misalkan seseorang sudah mencapai umur 60 tahun; mungkin Allah akan berkata kepadanya: "Usiamu di hadapanKu tidak mencapai sepuluh tahun". Atau, seseorang mungkin berusia 40; dan mungkin Allah akan berkata: "Usiamu di hadapanKu hanya beberapa hari". Betapa menyedihkan jika begitu banyak hari yang terbuang.

Tujuh
Saya tahu bahwa hati kita terasa sakit selama kita menyia-nyiakan tahun-tahun hidup kita dalam kebodohan. Tetapi syukur kepada Allah, Ia memberikan penghiburan kepada kita; Ia berkata melalui kitab Yoel: "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentaraKu yang besar yang Kukirim ke antara kamu." (Yoel 2:25).

Syukur kepada Allah, Ia tetap mempunyai jalan. Mungkin usia Saudara sekarang sudah 60 tahun, dan Saudara telah menghabiskan 30 atau 40 tahun dari tahun-tahun Saudara. Saudara akan meratap: "Sayang, kesempatan telah hilang. Tahun-tahun terbaikku telah dimakan belalang. Tahun-tahun yang hilang tidak akan pernah kembali lagi. Apa yang akan kukerjakan?" Puji Tuhan, Ia akan memulihkan bagi kita tahun-tahun yang telah dimakan belalang. Karena hari-hari yang terbuang, sepuluh tahun mungkin hanya terhitung menjadi satu hari.Tetapi jika kita kemudian kembali menggunakan waktu dengan benar, satu hari dapat menjadi sama dengan seribu hari - "sebab lebih baik satu hari di pelataranMu dari pada seribu hari di tempat lain," kata Daud (Mazmur 84:11). Satu hari di bumi tidak sama dengan 24 jam di surga.Allah mempunyai cara tersendiri untuk menghitung. Jika pelayanan kita sesuai dengan kehendakNya, satu hari di dalam pandanganNya dapat dianggap sebagai banyak hari.

Sekali waktu ada seorang pemuda yang jatuh ke dalam dosa dan sedang sekarat karena penyakit tbc. Seorang hamba Tuhan senior menyampaikan berita Injil kepadanya, mengatakan bahwa Yesus sudah memikul semua dosanya. Hamba Tuhan itu menantangnya untuk bertobat, mengakui dosanya dan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Pada mulanya anak muda ini merasa ragu, karena dikuasai dengan pikiran bagaimana mungkin Tuhan mengampuni orang berdosa seperti dia. Tetapi akhirnya ia menerima Tuhan dan diselamatkan. Ia merasa sangat gembira dan damai.

Setelah beberapa hari hamba Tuhan tersebut mengunjungi dia lagi, dan melihat wajah pemuda ini dalam keadaan penuh dengan duka dan kesedihan. Jadi ia bertanya kepada anak muda itu: "Mengapa engkau begitu sedih? Jangan biarkan setan memperdayakanmu!"

Ia menjawab: "Saya tahu dosa-dosa saya sudah diampuni."

"Lalu mengapa kau sedih?" Dengan muram ia menjawab: "Hari-hariku di dunia hampir habis. Apa yang dapat aku bawa kepada Tuhan ketika aku berdiri di hadapanNya? Tanganku kosong. Haruskah aku pergi dan bertemu dengan Tuhan dengan tangan kosong?" Itulah alasannya mengapa ia bersedih.

Hamba Tuhan tersebut menjawab: "Saudara, jangan merasa kecewa. Aku akan gunakan kata-katamu untuk menulis sebuah lagu. Dan untuk setiap orang yang oleh karena lagu ini terdorong untuk pergi ke luar negeri memberitakan injil dan memenangkan jiwa, engkau akan mendapat upahnya."

Inilah lagu yang ditulis oleh Charles C. Luther yang kemudian menjadi terkenal: "Haruskah aku pergi dengan tangan kosong? Haruskah aku menemui Juruselamatku dalam keadaan begini saja? Banyak orang yang dibangkitkan dengan lagu ini dan kemudian dengan semangat menyala-nyala melayani Tuhan. Walaupun anak muda ini telah kehilangan banyak dari hari-harinya


Terjemahan dari PRACTICAL ISSUES OF THIS LIFE by Watchman Nee (Bab 5, Numbering Our Days, jcb, 30121992)

Jumat, 06 Maret 2009

Pelayanan Para Nabi

dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman." - Kisah 6:4

Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. - I Korintus 12:28

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. - Kisah 13:1

Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. – I Korintus 14:1-4

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar [dalam bahasa Inggris dikatakan "dan Dia menjadikan beberapa orang rasul, beberapa orang nabi ...."], - Efesus 4:11

Dalam hubungannya dengan karunia, Allah memberikan penekanan yang lebih besar terhadap karunia berkata-kata seperti nabi, guru dll dari pada terhadap karunia melakukan seperti penyembuhan dan mengadakan mujizat. Namun nabi ini berkata melalui Roh Kudus...

Ada dua jenis karunia dalam gereja: yang satu adalah karunia yang dapat terlihat - seperti mengadakan mujizat, penyembuhan, bahasa lidah dll; yang lain adalah karunia yang diberikan untuk melayani orang-orang seperti nabi, pengajar, gembala dan pemberita Injil. Karunia yang disebutkan terakhir - untuk orang-orang berhubungan dengan pelayanan firman Tuhan.

Karunia menyembuhkan dan mengadakan mujizat tidak membuat kita mengetahui lebih banyak tentang kehidupan Kristus. Memang terkandung firman Tuhan di dalamnya, namun hanya itu; itu adalah hal-hal yang di luar bukan yang di dalam. Bagaimanapun, pelayanan firman Tuhan melalui karunia seperti nabi, pengajar dll, membangun kehidupan rohani gereja.

Nabi dan Pengajar
Saya yakin Allah ingin kita melihat secara khusus pada pelayanan nabi dan pengajar. Dalam Perjanjian Lama kita melihat 2 macam nabi : (1) mereka yang meramalkan kejadian di masa yang akan datang seperti Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Daniel; dan (2) orang-orang seperti Elia dan Elisa yang sebagian besar pekerjaannya bukanlah untuk menyingkapkan kejadian di masa yang akan datang, tetapi untuk menjelaskan kejadian masa kini. Mereka memberi pernyataan tentang apa yang Allah pikirkan dalam hal-hal yang dilakukan sekarang - mengapa Ia melakukannya dan apa yang Ia lakukan.

Mereka harus menerangkan pekerjaan Allah dengan tepat dan pandangan apa yang menyertai pekerjaanNya dan apa yang ada dalam pikiranNya. Yohanes Pembaptis adalah nabi yang paling menonjol di antara nabi-nabi Perjanjian Baru. Seperti nabi-nabi lain sebelum dia, Yohanes memberi pernyataan tentang apa yang Allah pikirkan di masa sekarang. Jadi setiap nabi memiliki tempat khusus, dan tidak ada yang lebih penting dari pada yang lain.

Pengajar, di pihak lain, menerima perkataan Allah, menyatakan pada umat dan menerangkannya. Pengajar tidak pernah disebutkan sendiri, selalu ditemani, oleh nabi atau gembala dll. Allah tidak menunjuk manusia hanya sebagai pengajar. Allah tidak menginginkan pengajaran atau doktrin apa pun yang mempunyai nilai akademis namun tanpa nilai rohani. Benar, Dia sudah mempergunakan beberapa orang sebagai pengajar, namun ini adalah pelayanan yang terbatas karena hal itu hanyalah mendapatkan pengertian dan terang tentang Firman dan dapat membagikannya dengan jelas pada yang lain dengan memecah-mecah atau menggabungkan menjadi satu. Semua ini bersifat objektif. Ini adalah pengertian yang datang dari luar, dari Firman, dan bukan terang yang datang dari pengenalan yang sungguh-sungguh akan Allah dan berjalan dengan Dia. Pengertian tentang firman Tuhan ini dan membagikannya pada yang lain menimbulkan kesulitan dan belajar tanpa henti untuk memecahkan masalah. Namun itu bukanlah kehidupan.

Namun waktunya akan tiba ketika Allah bertemu dengan saudara dan menunjukkan pada saudara bahwa persoalan sebenarnya bukanlah Firman Tuhan, melainkan diri saudara sendiri - bahwa segala sesuatu yang sudah saudara cari dan temukan adalah hal yang di luar, mental, tidak berguna dalam dunia pengetahuan bukan kehidupan.

Pelayanan Kenabian
Bila saudara ingin menjadi nabi, tiga hal ini penting:
(1) Persiapan saudara sebagai sebuah bejana - Roh Kudus meremukkan saudara, berurusan dengan saudara, menerapkan salib, membawa saudara dalam kematian dan mengerjakan kehidupan Kristus di dalam saudara. Dengan kata lain, cerita rahasia bersama Allah.
(2) Sebuah beban di dalam yang diberikan Allah - sebuah pikiran yang menjadi sebuah beban.
(3) Kata-kata untuk beban tersebut, ungkapan untuk pikiran itu – sebuah interprestasi dan ungkapan yang jelas mengenai hal itu.
Ada karunia kenabian yang datang lewat lidah atau ungkapan supra natural di bawah Roh yang dicurahkan; namun ini hanyalah cara Allah yang bersifat sementara ketika Dia tidak menemukan kedalaman rohani dan sejarah dan kematangan yang dapat dipergunakanNya sebagai bejana yang berakal budi untuk pembangunan gereja. Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 6, Watchman Nee), mia wenas

Kamis, 19 Februari 2009

Penghancuran Menghasilkan Kehidupan

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap dan nubuat kita tidak sempurna (I Kor 13:8).

Dari padaNyalah seluruh tubuh, - yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota - menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih (Ef 4:16).

Ada dua cara untuk melayani tubuh: yang pertama adalah yang melewati karunia yang bersifat objektif; dan yang kedua adalah yang melewati salib yang ditempa oleh Roh Kudus yang bersifat subjektif. Dalam beberapa gereja lokal Allah mengharuskan mempergunakan yang satu dan dalam gereja lokal yang lain Dia dapat mempergunakan yang lain. Karunia Roh dapat diartikan sebagai "Pinjaman Ilahi"; Ia meminjamkan kekuatanNya sendiri dan mengarunia-kanNya kepada saudara. Hal itu sungguh-sungguh di luar diri saudara, terpisah dari diri saudara. Ambil contoh manusia Samson: dia tidak dapat melakukan hal-hal yang tidak biasa, hal-hal yang cukup unik dan berbeda dari yang lain; namun manusianya sendiri sama sekali tidak istimewa di mata Allah. Allah hanya meminjamkan kekuatanNya kepada orang-orang biasa untuk sementara waktu karena Dia memiliki kebutuhan yang khusus. Namun itu sama sekali tidak berarti bahwa individu tersebut adalah orang dengan kekudusan atau yang bernilai rohaniah yang khusus; pada kenyataannya, akan terbukti bahwa yang benar adalah kebalikan-nya.

Bukan Melakukan, Tetapi Menjadi
Gereja masa kini yang teroganisir menekankan pada apa yang dikatakan orang dan apa yang dilakukan orang namun memberikan sedikit perhatian pada apa orang itu. Banyak pekerja muda sungguh-sungguh ingin dapat berbicara dengan kekuatan, punya kerinduan untuk dapat berbicara dengan cara yang menarik, ingin dapat berkhotbah dengan baik untuk dapat mengge-rakkan dan mengubah orang. Mereka tidak menyadari bahwa ini bukanlah hal yang terpenting. Masalah yang terpenting adalah : siapakah dan apakah saudara? Hal yang bernilai dan penting bukanlah bahwa saudara diberikan karunia dan karenanya saudara dapat berbicara, melainkan bahwa saudara mengenal Allah dan karenanya saudara berbicara.

Kami tidak mengumpulkan orang-orang muda untuk mengajarkan pada mereka doktrin atau bahkan Firman Tuhan, atau mengajarkan mereka berkhotbah tentang Injil atau untuk mencari karunia bahkan kekuatan, melainkan untuk menolong mereka untuk menjadi pria dan wanita yang lebih baik, untuk mempelajari salib. Mereka dapat pergi ke berbagai tempat untuk mempergunakan karunia yang mereka miliki atau untuk belajar berkhotbah dan seterusnya, namun bukan ke tempat mereka mempelajari salib. Bila mereka berharap untuk menambah pengetahuan mereka atau karunia mereka untuk menolong orang, ini bukanlah tempatnya.

Apakah karunia dibutuhkan? Ya, sampai suatu titik tertentu; namun tidaklah terus demikian karena Allah tidak akan melanjutkannya supaya Ia membawa pekerjaan salib, penghancuran, pelemahan dan pengenalan akan Allah - dimana kita tidak membutuhkan ungkapan supranatural. Dengan kenyataan bahwa mulut dapat berbicara karena kesempurnaan hati dan karena Kristus telah disusun oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita, kita dapat berbicara tentang kehidupan di dalam kita. Hari ini kita dapat berkata sama tepat dengan yang kita katakan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, namun itu benar-benar berbeda. Ya, saya mengetahui dan mempercayainya waktu itu, namun sekarang hal itu telah disusun dalam diri saya. Itu adalah diri saya sendiri, yaitu Kristus dan saya.

Penghancuran Menghasilkan Pelayanan
Ishak mewakili orang yang memiliki segalanya karena karunia. Lihatlah bahwa segala sesuatu yang dia terima berasal dari ayahnya. Itu adalah hal bersifat objektif dan yang berada di luar dirinya. Bahkan ketika Ishak memberkati anak-anaknya, hal itu agak membingungkan. Dia hampir buta dan meimbulkan kekacauan.

Tidak demikian dengan Yakub. Yakub sudah diremukkan, benar-benar dihancurkan oleh Allah; dan Roh Allah telah membentuk kehidupan Allah dalam dirinya sehingga dia berkata, "Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari padaMu, ya Tuhan" (Kej 49:18). Ketika dia memberkati anak-anaknya atau anak-anak Yusuf, Yakub sungguh-sungguh mengetahui apa yang dilakukannya. Dia melakukannya dengan hati-hati. Katanya, "Aku tahu, anakku, aku tahu" (Kej 48:19). Yakub memiliki terang, Yakub memiliki wahyu, karena dia sudah diremukkan.

Orang-orang berkata, "Mengapa ada begitu banyak pelayan Allah yang jatuh atau berakhir dengan tersingkir, yaitu tidak lagi dipergunakan oleh Allah?" Siapa yang berkata bahwa Allah tidak pernah sungguh-sungguh memakai mereka? Dan bila Ia melakukan hal semacam ini, hal itu sama dengan memberikan karunia. Allah yang berdaulat tentang hakNya mengambil seseorang untuk memberikannya karunia sementara. Namun Ia mempergunakan orang ini tidak lama, karena apa yang ada di dalam diri orang ini tidak berharga untuk pelayanan apa pun.

"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (II Kor 4:7). Allah memimpin kita melewati ujian-ujian yang panas yang tidak dapat kita lewati dan yang tidak dapat kita tahan, di mana kita tidak dapat menang dan di mana kita akan mati; namun di sinilah kita menemukan bahwa hal yang berharga yang ada di dalam kita bekerja. Karena adanya hal berharga di dalam bejana, karena adanya kehidupan Kristus di dalam, kita melewatinya. Kita menang di mana kita tidak dapat menang. Kita menahannya di dalam tubuh kematian Kristus dan akibatnya kehidupan Yesus dimanifestasikan.

Saudara hanya dapat menolong orang dengan apa yang saudara sendiri alami. Semakin mahal harganya, semakin saudara dapat menolong orang lain; semakin murah harganya semakin saudara tidak dapat menolong orang lain. Ketika saudara melewati ujian-ujian yang panas, pencobaan, penderitaan, aniaya, konflik - ketika saudara membiarkan Roh Kudus mengerjakan kematian Kristus dalam kehidupan saudara - kehidupan akan memancar kepada yang lain, bahkan kehidupan Kristus. - Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 5, Watchman Nee), mia wenas

Minggu, 15 Februari 2009

Kehidupan Yang Membangun

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus... Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Ef 4:7, 11-13).

Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama, sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya (I Kor 12:7-11).

Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun (I Kor 14:4,5).

Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan (II Kor 3:5,6).

Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati... Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami, Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu (II Kor 4:1, 7-12).

Bila kita tidak melihat tujuan kekal Allah, kita tidak akan pernah melihat apa itu pekerjaan Allah. Semua pekerjaan Allah akan dilakukan di dalam dan lewat gereja. Pekerjaan ini mempunyai tujuan untuk membangun dan membentuk tubuh Kristus; pekerjaan ini harus dilakukan oleh keseluruhan tubuh itu sendiri, dan tidak oleh individu atau misi yang terisolasi, atau tindakan gereja yang tidak mau bergantung. Pekerjaan gereja semacam ini harus sungguh-sungguh berasal dari Allah dan untuk AnakNya.

Untuk menjadi kawan sekerja Allah kita harus memiliki wahyu, bila tidak, kita tidak berjalan dalam tujuanNya yang kekal dan untuk tujuanNya yang kekal. Permulaan segala pekerjaan bagi Allah adalah sebuah penyerahan dan sebuah persembahan diri sendiri yang dihasilkan oleh wahyu. Wahyu harus ada, karena terang Allah ini membunuh semua yang tidak berasal dari Dia - semua yang ke luar dari manusia. Ketika wahyu datang, kita tidak mempunyai pilihan, tidak ada jalan lain yang kita tuju. Memilih jalan ini atau mati.

Dua Cara Untuk Membangun Tubuh
Bagaimana kita dapat menjadi kawan sekerja Allah dan membangun tubuh? Bila pekerjaan kita hanyalah menyelamatkan orang, pekerja akan menjadi bagian yang penting. Juga akan terlihat seperti bekerja bagi manusia. Namun bila pekerjaan kita bertujuan untuk membangun tubuh, manusia akan sungguh-sungguh dikesampingkan; karena tubuh adalah Kristus. Segalanya untuk Kristus dan karena itu tidak ada satu bagian pun dari manusia dapat masuk.

Dalam I Kor 12 dinyatakan banyak karunia Roh, dan Paulus menekankan baik kata-kata maupun tindakan; namun dalam II Kor 4 kita hanya menemukan tindakan. Ada dua cara yang berbeda untuk membangun gereja. Kalau begitu apa nilai karunia-karunia Roh ini dalam membangun gereja? Bagaimana kalau kita membandingkan nilai-nilai ini dengan nilai kehidupan dalam Roh?

Dalam II Kor psl 3-10 ditekankan apa itu pelayanan Perjanjian Baru. Pelayanan tersebut tidak terletak pada karunia, namun dalam kekayaan yang melimpah dari harta di dalam bejana tanah liat; yaitu, Kristus dalam dia.

II Kor 4:10,12 "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami... Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu" - yang sama sekali berbeda dengan apa yang tertera dalam Rm 6. Hal itu berarti kematian terus bekerja: kematian Kristus bekerja dan bekerja dari hari ke hari di dalam kita, dan hasilnya adalah meluapnya kehidupan kepada orang lain. Dan dengan cara inilah gereja dibangun.

Jadi, di sini kita mempunyai dua cara untuk membangun gereja:
(a) I Kor. 12 dengan karunia Roh; dan
(b) II Kor. 4, dengan kematian yang bekerja di dalam kita supaya kehidupan dapat bekerja bagi orang lain.

Dengan cara apa saudara paling banyak dibangun? Apakah kehidupan dalam diri saudara paling banyak dibangun oleh karunia Roh, atau oleh mereka yang saudara kenal yang mengetahui cara menerapkan salib dalam kehidupan batiniah mereka - yang dapat menanggung kematian Kristus dalam diri mereka - supaya kehidupan Kristus dapat dimanifestasikan? Inilah yang disebut menanggung salib. Biarlah kematian terus bekerja di dalam diri saudara dan saya supaya kehidupan dapat terus dialirkan dalam diri orang lain.

Kita melihat orang-orang yang kaya dengan penggunaan karunia: karunia menyembuhkan, karunia mengusir setan, karunia berkata-kata dengan hikmat, karunia berbicara dengan bahasa lidah. Dan kita berfikir alangkah kayanya mereka, alangkah diberkatinya mereka dan alangkah dipakainya mereka oleh Tuhan! Namun apakah hal itu benar demikian? Ini adalah karunia masa anak-anak. Karunia-karunia ini hanyalah untuk bayi-bayi rohani, berguna dan penting selama periode itu; namun kita harus bertumbuh.

Hal-hal yang memperbaiki dan menolong kita bukanlah karunia berkata-kata dengan hikmat, namun kehidupan orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang yang sungguh-sungguh mengetahui tentang salib, yang tahu apa yang ada di dalam salib dan menanggungnya setiap hari. Ambil contoh, misalnya, perusahaan dengan orang-orang Kristen yang baru diselamatkan. Untuk tahun-tahun pertama Allah akan memberikan mereka karunia untuk membuat mereka menyadari tentang kekuatan dan kemuliaanNya dan untuk menguatkan iman mereka yang lemah. Namun ketika iman mereka sudah cukup kuat, Allah akan mengangkat karunia-karunia itu dan membawanya ke salib. Ada bahaya yang besar sehubungan dengan karunia-karunia tersebut, yaitu apa yang disebut kesombongan 'rohani'. Seseorang dapat berdiri dalam Roh (yaitu Roh yang dicurahkan) dan mengeluarkan kalimat-kalimat yang indah yang tidak dapat dikatakan oleh orang lain."Saya sungguh memiliki sesuatu yang indah!" dia pikir. Namun kehidupan rohaniahnya lebih kekanak-kanakan dibanding dengan orang percaya yang lain yang tidak memiliki karunia namun yang mengetahui salib dengan mendalam.

Dalam kedaulatanNya Allah memberikan karunia kepada masing-masing orang supaya mereka dapat melayani sebagai mulutNya untuk satu waktu tertentu ketika tidak ada yang lain yang dapat kita mengerti karena kita adalah bayi dan Ia tidak dapat menemui kita pada tingkatan yang lain. Karenanya Dia akan mempergunakan mulut apa saja - bahkan mulut seekor keledai. Namun itu terbatas pada jenis pelayanan taman kanak-kanak, dan mudah membuat kita tinggi hati. Yang sungguh Allah inginkan dan tunggu-tunggu, dan yang sedang dikerjakanNya adalah bejana yang di dalamnya Ia dapat memberikan firmanNya untuk diungkapkan oleh RohNya dan disusun oleh salib di bagian yang paling dalam dari diri kita sampai firman itu sungguh-sungguh menjadi kehidupan kita. Kemudian, kehidupan kita menjadi pelayanan kehidupan, kehidupan yang terpancar dari kematian yang sedang bekerja di dalam kita. Jadi siapa pun yang percaya pada karunia adalah orang yang bodoh, karena karunia ini tidak mengubah manusia yang di dalam. Gereja yang ingin membangun dirinya sendiri dengan mempergunakan karunia akan terus menjadi gereja yang bersifat jasmaniah, karena bukanlah cara Allah dengan membangun gereja dengan tingkatan anak-anak.

CaraNya adalah KehidupanNya
Cara Allah adalah kehidupan dan melalui kehidupan. Seringkali ketika saudara pergi ke tempat persekutuan, beberapa orang saudara yang sombong dan tidak berpengetahuan berdoa atau bangkit dan mengatakan beberapa kata. Mungkin bukan dalam kata-kata yang diucapkan, namun saudara merasa diberkati dalam bagian yang paling dalam dari diri saudara. .... (Mzm 42:7).

Yang telah terjadi adalah bahwa saudara sudah menyentuh kehidupan, dan saudara diperbaiki dan dikuatkan dan ditolong. Bahwa ada yang memberikan pelayanan kehidupan pada saudara.

Orang-orang dengan segala keberadaannya, orang-orang yang utuh, tidak pernah dapat memberikan pelayanan kehidupan, karena hanya orang-orang yang hancurlah yang dapat melakukannya. Hanya lewat penghancuran, kehidupan dapat muncul. Ini adalah jalan Allah yang sempurna. Biarlah Allah menundukkan setiap orang yang sombong; biarlah Dia menghancurkan, menghancurkan dan menghancurkan kita lagi. Biarlah Dia berurusan dengan kehidupan alamiah kita. Biarlah salib diterapkan secara mendalam - sehingga pelayanan kehidupan dapat dilakukan kepada yang membutuhkannya. Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 4, Watchman Nee), mia wenas

Rabu, 04 Februari 2009

Wahyu Tentang Tujuan Kekal Allah

Berpikirlah Tuhan: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?" (Kej 18:17).

Pada suatu hari bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya ... Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. (Kej 37:5,9)

Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: "Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. (Kej 49:1)

Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadaMu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya." (Kel 25:9)

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati ... Tuhan bergaul karib dengan orang-orang yang takut akan Dia, dan perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka. (Mzm 25:9, 14)

Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:27)

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. (Kis 20:24)

Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu; yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seprti yang telah kutulis di atas dengan singkat ... Dari Injil ini aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasaNya. (Ef 3:2,3,7)

Tujuan kekal Allah tidak pernah dapat dimengerti dan dipahami oleh pikiran. Ia harus datang lewat wahyu. Semua pekerjaan Allah dimulai dengan pengabdian diri atau berdasarkan penyerahan. Namun pengabdian diri atau penyerahan semacam ini hanya muncul lewat wahyu. Sebenarnya, pekerjaan Allah (bukan pekerjaan kita, tetapi pekerjaan Allah melalui kita) dimulai hanya ketika wahyu datang. Secara jasmaniah itu adalah visi surgawi, secara batiniah itu adalah wahyu.

Allah tidak ingin kita hanya melakukan jenis pekerjaan yang umum dan bermacam-macam dariNya. Dia ingin kita mengetahui seluruh rencana Dia dan bekerja denganNya lewat tujuan dan rencana yang jelas. Karena kita bukanlah hanya pelayanNya, namun kita adalah juga temanNya.

Semua penyerahan diri dan pengabdian diri berharga, namun bila kita sudah sampai di situ, ke dua hal itu dapat menjadi lebih berharga setelah melewati wahyu. Dan pada saat itu juga menjadi lengkap. Penyerahan diri kita di hadapan wahyu ini hanyalah masalah keselamatan. Dia telah membeli saya dengan darahNya, kasihNya bagi saya tidak terucapkan. Karenanya, saya harus memberikan diri saya padaNya. Saya harus memberikan diri saya dan semua yang saya miliki padaNya karena kasih karuniaNya yang menyelamatkan saya. Namun setelah wahyu, hal itu menjadi berbeda.

Ketika kita melihat tujuan kekal Allah, kita akan menyerahkan diri pada tujuan ini, dengan penyerahan yang tidak pernah kita impikan sebelumnya - sesuatu yang lebih mendalam dan lebih mengherankan. Paulus berkata: "Kepada penglihatan dari sorga itu, tidak pernah aku tidak taat." (Kis 26:19). Dia dapat pergi melewati apa saja dan menahan apa saja karena penglihatan surgawi.

Dari orang-orang Allah, Yusuf adalah tipe yang sempurna, di dalam dia menjadi satu orang-orang yang ada sebelum dia. Namun krisis datang padanya ketika dia bermimpi. Ini adalah wahyu baginya yang di dalamnya dia melihat tujuan Allah dan bagian bagi dirinya di dalam tujuan Allah tersebut. Ini adalah permulaan pekerjaan Allah lewat dia.

Musa harus naik keatas gunung untuk menerima pola untuk kehidupan umat Allah - Sepuluh Perintah Allah dan semua hukum Allah. Kemudian dia harus mencapai pola tabernakel: "Ingatlah... bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu" (Ibrt 8:5).

Dalam bagian yang terkecil dari pekerjaan yang kita lakukan untuk Allah haruslah menurut contoh yang ditunjukkan kepada kita di atas gunung; yaitu, menurut wahyu tentang tujuan dan rencanaNya yang kekal yang sudah Allah berikan kepada kita. Namun wahyu yang didapatkan oleh Yusuf dan Musa dan yang lainnnya bersifat individual. Tidaklah demikian sekarang. Sekarang wahyu ditujukan kepada gereja. Itu bukanlah wahyu yang berbeda untuk setiap individu, namun wahyu yang sama diberikan pada seluruh gereja.

Pekerjaan Rohani Yang Berdasarkan Pada Wahyu
Semua pekerjaan Allah yang bersifat rohani berasal dari wahyu. Bila tujuan kekal Allah terpisah dari wahyu, tidak ada pekerjaan rohani yang sesungguhnya. Mungkin ada bermacam-macam pekerjaan bagi Allah yang tersebar yang diberkati olehNya, namun hal itu tidak dapat sungguh-sungguh disebut pekerjaan rohani atau kerja sama dengan Dia, jika pekerjaan itu bukanlah hasil dari wahyu mengenai tujuan kekal Allah. Haruslah sebuah wahyu dan bukan semata-mata pemahaman batiniah mengenai wahyu - bukan hanya mengerti dan melihat secara intelektual, karena hal itu sia-sia. Hal itu haruslah berupa sebuah "penglihatan" di dalam roh saudara: sebuah penglihatan tentang bidang dan pembatasan pekerjaan Allah.

Jadi hanya wahyulah yang dapat berurusan dengan pekerjaan dan pekerja. Terang dari surga menghancurkan kita berkeping-keping. Ia menghancurkan dan membunuh kita dan pekerjaan kita. Bila itu hanyalah berupa doktrin atau pengajaran, hal itu akan segera meninggalkan kita. Ia pergi dan menguap. Namun bila itu adalah terang atau wahyu, ia adalah hidup kita, dan kita tidak dapat melarikan diri darinya.

Pada suatu hari Tuhan Yesus berkata: "Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan Dia pada akhir zaman...Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku." Banyak orang tersandung karena hal ini dan meninggalkanNya. Namun, murid-muridNya ketika ditanya apakah mereka akan meniggalkanNya juga, menjawab: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal."(Yoh 6:54, 56, 57, 68).

Ketika kita melihat terang, terang itu menjadi hidup kita dan tidak pilihan lain. Kita tidak memiliki jalan lain, karena itulah yang sungguh-sungguh menjadi hidup kita. Bila kita tidak melewati jalan itu, kita mati. Namun syukur pada Allah karena hal itu bukanlah sesuatu yang harus kita ingat, atau coba kita ingat. Bila kita sudah melihatnya, kita sudah melihatnya dan akan selalu melihatnya. Ia tidak pernah meninggalakan kita. Kita menemukan bahwa tubuh adalah jawaban untuk semuanya: itu adalah kehidupan kita yang sesungguhnya. Kita tidak dapat hidup di luar tubuh.

Kepada Siapa Diwahyukan?
Setiap hal rohani yang kita miliki, datang kepada kita oleh wahyu. Hal itu datang dengan urutan seperti ini: (1) terang, (2) wahyu, (3) kehidupan, yaitu kehidupan Allah, dan (4) seluruh kekayaanNya, seluruh diriNya.

Bila Allah ingin melakukan hal yang baru - hal yang khusus - di Shanghai, di Cina, atau di mana pun di dunia apakah Ia akan menyingkapkan atau menyembunyikannya dari saudara? Ada berapa orang di Shanghai yang bisa dipercayaiNya bila Dia ingin melakukan sesuatu di sana? Biarlah kita melihat bahwa kepada orang- orang yang paling dikasihiNya dan yang paling dekat denganNyalah Dia akan menyingkapkan rahasiaNya dan rencana-rencanaNya.

Seharusnya hal ini menjadi sesuatu yang menenangkan pikiran kita.
Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 3, Watchman Nee), mia wenas

Kamis, 08 Januari 2009

Pekerjaan Allah Pada Masa Kini

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus .... dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil, maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebe naran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari padaNyalah seluruh tubuh,- yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota - menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Ef 4:7, 11-16)

Sekarang kita akan mengetengahkan pokok pembicaraan tentang apa pekerjaan Allah pada zaman ini. Pekerjaan Allah pada zaman ini adalah membentuk tubuh Kristus. Dan pekerjaan gereja, sama persis - membentuk tubuh Kristus. "Seluruh tubuh.... menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih". Tidak ada misi, tidak ada sekolah Alkitab, tidak ada kelompok pengabar Injil dll yang dapat pernah menggantikan gereja atau melakukan pekerjaan gereja.

Untuk Penyempurnaan Orang-Orang Kudus
Pada zaman sekarang, rata-rata gereja hanyalah memperhatikan keselamatan jiwa; namun dalam Perjanjian Baru - di sini, di Efesus - bukan hanya itu yang diperhatikan.Kristus telah menjadikan orang-orang sebagai rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar. Mengapa? Untuk penyempurnaan orang-orang kudus. Yang diperhatikan gereja pada masa ini nampaknya hanyalah menyelamatkan manusia dari neraka, dari hukuman, dari kesedihan dan dari kehilangan. Ini baik, namun ini bukanlah pikiran Allah untuk gereja. Ini bukanlah pekerjaan Allah untuk gereja. Tugas yang ditujukNya bagi gereja adalah "penyempurnaan orang-orang kudus", karena pekerjaanNya dan pekerjaan gereja adalah membentuk dan memperbaiki tubuh. Dikatakan bahwa mengingat penjelmaan Yesus Kristus, Allah bertujuan untuk memberikan padaNya sebuah tubuh; bahkan Tuhan Allah sekarang sedang mempersiapkan sebuah tubuh bagiNya. Rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan guru diberikan kepada gereja untuk menambah kekuatan tubuh; yaitu bahwa, mereka sebagai anggota tubuh diharuskan menambah kekuatan tubuh. Anggota tubuh adalah untuk tubuh. Karunia kepada gereja yang adalah anggota tubuh adalah untuk tubuh. Tubuh adalah untuk menambah kekuatan tubuh.

Bukan Pengajaran, Namun Kehidupan
Karenanya, dapatkah pekerjaan Allah berada di luar gereja dalam misi atau kelompok pengabar Injil atau bagian yang lain? Tidak pernah! Karena hal itu haruslah gereja itu sendiri - tubuh itu - yang melakukan pekerjaan tubuh. Hal ini menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pekerja-pekerja atau pekerjaan-pekerjaan atau misi-misi yang bersifat mandiri, besar atau kecil, yang terorganisir dengan sangat baik atau yang didorong oleh iman. Bila terpisah dari tubuh, terpisah juga dari perintah Allah.

Ini bukanlah masalah prinsip atau pengajaran, ini adalah masalah kehidupan. Bila saudara mempunyai wahyu mengenai hal ini, ketika saudara melakukan hal yang paling kecil yang bersifat individualistis dan tidak berhubungan dengan tubuh, saudara akan merasakannya dan mengetahui bahwa itu salah, walau itu adalah hal yang sangat kecil. Sama sekali tidak ada tempat bagi kemandirian atau individualis - karena itu adalah diri sendiri, itu adalah saudara dan bukan Kristus.

Apakah saudara memiliki ini sebagai pengajaran? Bila saudara tidak memiliki kesadaran tubuh, saudara memilikinya dalam dunia roh dan bukan dengan wahyu. Dan jika demikian, itu adalah sesuatu yang saudara ambil dari luar; hal itu tidak datang dari dalam. Hal itu tidaklah bersifat spontan dan bukan-lah kehidupan bagi saudara. Melainkan, itu adalah sesuatu dalam pikiran saudara dan bukanlah suatu wahyu; sebaliknya saudara akan memiliki kesadaran tubuh. Bila itu adalah sesuatu yang dapat saudara lepaskan atau sesuatu yang darinya saudara dapat melarikan diri atau dapat saudara kesampingkan, saudara tidak memiliki wahyu dalam tubuh.
Bila saudara sungguh-sungguh berada dalam tubuh berdasrkan pengalaman karena wahyu, saudara tidak dapat melarikan diri darinya .Saudara tidak mempunyai jalan lain, tidak ada pilihan, hanya ada satu pilihan bagi saudara. Bila saudara tidak mempergunakan jalan ini, tidak ada jalan lain bagi saudara karena saudara sudah melihat tubuh lewat wahyu. Bila ini adalah wahyu ada hal batiniah - dalam roh saudara, bukan hal jasmaniah, dalam pikiran saudara.
Di luar gereja yang adalah tubuhNya, tidak ada kemungkinan bagi pekerjaan Allah. Bila saudara pergi ke satu tempat di mana ada gereja yang sesungguhnya, yaitu ekspresi tubuh Kristus yang benar-benar merupakan gerejaNya, saudara tidak dapat bekerja terlepas dari gereja itu, yaitu yang tidak berhubungan dengan ekspresi tubuh Kristus. Jangan berpendapat bahwa pekerja hanyalah rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar yang Allah susun dalam dan untuk tubuh. Tidak; setiap anggota tubuh dimaksudkan Allah untuk bekerja bagi Allah dan bagi tubuh untuk memperbaiki tubuh. Salah bila dikatakan bahwa beberapa orang adalah pekerja dan beberapa orang hanyalah anggota tubuh. Semua orang adalah pekerja. Tubuh Kristus bukanlah untuk membangun tubuh itu sendiri. Semua harus berasal dari tubuh dan semua haruslah bagi tubuh.

Keberadaan kita di sini bukanlah untuk menyusun sesuatu, untuk mendirikan sesuatu, menjadi pola dalam penyembahan, untuk mewakili gerakan yang baru. Keberadaan kita di sini adalah untuk mewakili ekspresi kehidupan Kristus dalam tubuhNya. Apa pun yang berada di Shanghai berasal dari Allah, siapa pun milik Allah, apapun dan siapa pun yang mewakili tindakan kehidupan Kristus adalah milik kita. Mereka adalah bagian dari kita, apakah mereka menyadari atau mengakuinya atau tidak, dan kita adalah bagian dari mereka. Jika ia bukan mahluk hidup, ia bukanlah gereja. Benda mati tidak dapat menjadi tubuhNya.

Alangkah seringnya sebuah misi atau pekerjaan bersama hanyalah membawa seperangkat doktrin, pengajaran-pengajaran khusus, atau pendirinya sendiri yang mungkin sudah menjadi orang yang saleh. Allah melepaskan kita dari semua ini, karena semuanya adalah benda mati. Roh Kudus tidak dapat mendukung atau melayaninya, karena itu adalah "benda" dan Roh Kudus hanyalah dapat mempergunakan mahluk hidup - tubuh, gereja. Semua pekerjaan haruslah berasal dari gereja sampai kepada penambahan kekuatan dan perbaikan gereja.

Sebagai Sebuah Tubuh
Tujuan dari semua ini ditemukan dalam Ef 4:13 "Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus". Hal ini tidak dapat direalisasikan secara individual; ia hanya dapat direalisasikan dan dicapai lewat sebuah tubuh. Oleh karena itu, marilah kita meminta Allah untuk berurusan dengan kita, untuk mengerat semua individualisme, semua pikiran dan keputusan sendiri, semua gerakan dan tindakan individualis. Seluruh kehidupan kita haruslah terletak dalam tubuh. Mintalah pada Allah untuk mengajarkan pada kita bagaimana hidup di situ. Kehidupan tubuh bukanlah sesuatu yang dapat kita pelajari. Itu adalah hal yang paling alamiah dan spontan bila kita berada di dalam tubuh oleh wahyu. – Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 2, Watchman Nee), mia wenas

Selasa, 28 Oktober 2008

Apa Yang Dimaksud Dengan "Pekerjaan Allah"?

"Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." - (Fil 3:12-14)

"Sebagai teman-teman sekerja, ...." (II Kor 6:1)


Allah memiliki pekerjaan. Pekerjaan ini bukan pekerjaan Saudara atau pekerjaan saya; juga bukan pekerjaan suatu badan misi atau organisasi tertentu. Pekerjaan ini adalah pekerjaan Allah sendiri.

Kejadian 1 menceritakan kepada kita bahwa Allah bekerja dan kemudian beristirahat. Mula-mula Allah menciptakan terang, makhluk hidup, manusia dan seterusnya. Hanya Dia yang dapat melakukan penciptaan ini. Dan sekarang Ia juga memiliki pekerjaan; pekerjaan ini bukan pekerjaan manusia, dan tidak dapat dikerjakan oleh manusia manapun. Pekerjaan Allah tidak dapat dilakukan oleh siapapun kecuali oleh Allah sendiri. Semakin cepat kita menyadari hal ini semakin baik. Sebab pekerjaan manusia, pikiran manusia, metode manusia, semangat manusia, kesungguhan dan usaha manusia, juga kegiatan tanpa kenal lelah yang dilakukan manusia, sama sekali tidak mendapat bagian dalam pekerjaan Allah. Manusia tidak dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Allah, baik pada waktu yang lampau, maupun pada masa kini.

Dalam Surat Filipi Paulus berkata: "Kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus." Tuhan Yesus mempunyai tujuan yang khusus ketika menangkap kita; tujuan khusus inilah yang ingin kita pegang. Ia memiliki tujuan, yaitu supaya kita menjadi kawan sekerjaNya. Meskipun demikian kita tetap tidak dapat melakukan pekerjaan Allah, karena pekerjaan itu adalah milik Allah sepenuhnya. Namun pada sisi lain kita adalah kawan sekerjaNya. Jadi, pada satu sisi kita harus tahu dan sadar bahwa sedikitpun kita tidak dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Allah; tetapi pada sisi yang lain kita dipanggil untuk menjadi kawan sekerjaNya! Untuk alasan inilah Ia menangkap kita. Allah mempunyai tujuan yang pasti dalam penyelamatan - sebuah tujuan yang khusus dan jelas - yaitu menjadikan kita kawan sekerjaNya.

Apa Yang Dimaksud Dengan "Pekerjaan Allah"?
Lalu, apa yang dimaksud dengan pekerjaan Allah? Kitab Efesus memberikan keterangan yang lebih jelas dari pada kitab yang lain dalam Perjanjian Baru. Ayat 4 dalam pasal 1 mengatakan: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya". Pasal 2 ayat 7 mengatakan: "supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikanNya terhadap kita dalam Kristus Yesus." Sebagai tambahan dalam pasal 1 ayat 9 dikatakan: "Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaanNya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula ditetapkanNya dalam Kristus."

Dalam kebaktian di gereja kita sering menjumpai orang yang melayani dan berkotbah menurut pikiran mereka sendiri. Mereka tidak berbicara dalam Roh tetapi menyimpang dari kebenaran. Apa yang mereka katakan cuma memiliki nilai yang kecil atau bahkan sama sekali tidak memiliki nilai. Namun pada waktu Allah menciptakan dunia ini, karena Dia yang merancangnya, tidak ada yang tidak harmonis. Segalanya adalah untuk Anak, segalanya berasal dari Kristus dan bagi Kristus. Tidak ada yang di luar Dia, karena segalanya telah termasuk di dalam Kristus. "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia" (Kol 1:16). Semuanya berada dalam keharmonisan rencana Allah yang sempurna. Dan Allah akan membawa semua ciptaanNya sampai tingkat ini, pada tempat yang benar-benar harmonis. Namun, sedikitpun kita tidak dapat melakukan bagian ini. Allahlah yang sedang melakukannya dan akan melakukan semua itu.

Siapakah Kawan Sekerja Allah?
Kawan sekerja Allah adalah gereja. Dalam dua ayat di Efesus yang disebutkan sebelumnya kita dibawa untuk melihat sekejap ke dalam dua keadaan kekal: (1) "Dia memilih kita sebelum dunia dijadikan", dan (2) "Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikanNya terhadap kita dalam Kristus Yesus." Dan sarana tempat pekerjaan ini dilaksanakan adalah tubuh Kristus, yang juga merupakan wadah Kristus.

Sekarang, siapakah yang bisa disebut sebagai seorang kawan sekerja Allah? Ia bukan orang yang ingin bekerja untuk Allah, bukan orang yang melihat kebutuhan dan kemudian ingin memenuhinya; bahkan bukan orang yang memimpin orang lain kepada keselamatan. Ia adalah orang yang melakukan apa yang Allah tunjukkan kepadanya sehubungan dengan rencanaNya yang kekal, dan hanya itulah yang dia lakukan. Bila kita sungguh-sungguh melihat alasan mengapa Allah menangkap kita, maka semua kerja keras kita, semua pekerjaan yang pernah kita lakukan untuk Dia akan nampak tidak berarti.

Sasaran dan tujuan Allah dalam segala perkara adalah untuk menyatakan AnakNya, untuk memanifestasikan AnakNya,"untuk menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikanNya terhadap kita dalam Kristus Yesus." Inilah tujuan kekalNya. Apakah ini sasaran Saudara dalam pekerjaan yang Saudara lakukan sekarang? Bila sasaran Saudara lebih rendah daripada ini, Saudara bukanlah kawan sekerja Allah.

Saudara mungkin bertanya: Bagaimana saya tahu bahwa saya sedang bekerja bersama Allah? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mudah. Apakah Saudara merasa puas dengan apa yang Saudara lakukan? Bila Saudara tidak memuaskan Allah, Saudara tidak dapat memuaskan diri sendiri. Hal ini bukanlah tentang membandingkan pekerjaan Saudara dengan pekerjaan orang lain. Yang dipermasalahkan di sini adalah apakah yang Saudara lakukan itu benar-benar baik atau tidak. Yang dimaksud dengan baik di sini adalah baik dalam pandangan Allah; dapat diterima Allah, berasal dari Allah dan sejalan dengan tujuanNya yang kekal.

Paulus menyatakan: "Kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya karena aku telah ditangkap oleh Kristus Yesus." Kita tidak perlu melihat sekeliling kita dan mengeritik orang lain, dan bertanya-tanya apakah mungkin banyak orang lain yang salah dan hanya kita, yang sedikit, yang benar. Sikap seperti ini tidak berharga dan menyakitkan. Biarkanlah yang lain. Biarlah kita yakin bahwa kita "berlari-lari kepada tujuan dan memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Apakah Yang Dimaksud Dengan Gereja?
Ketika kita mulai mencari sesuatu di sini, di bumi ini - sebuah gereja, sebuah kesaksian, sebuah gerakan, sebuah doktrin, hal yang dapat dilihat dari luar dan yang nyata, kita segera melihat bahwa hal-hal tersebut hanyalah "kekristenan yang bersifat teknis". Hal itu hanya bersifat dunia; mati dan tidak berguna. Tubuh Kristus hidup dan bersifat rohani. Namun bila ia mati, dengan segera ia hanya menjadi sebuah benda.

Kita hanya perlu menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati dan kemudian menghasilkan tuaian. Hal ini terus menerus diulang selama berabad-abad, dan selamanya selalu merupakan urusan surgawi; tidak pernah ada campur tangan dunia. Gereja bukan merupakan kumpulan orang Yahudi, orang kafir, orang Inggris, orang Amerika, orang Cina dan seterusnya. Karena bukankah di dalam Kitab Kolose tertulis "dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu" (3:11)?

Orang-orang berpendapat bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Surga, kita harus memiliki "sepotong" Kristus di dalam kita - dan itulah yang membuat kita masuk. Ini adalah konsep yang salah yang mengerikan. Karena di pintu masuk kerajaan Surga terlihat salib, dan di atas salib itulah Saudara dan saya dan setiap orang digantung. Setiap orang Yahudi, Yunani, Inggris, Amerika, Cina dan seterusnya dipakukan pada salib itu dan tidak pernah masuk ke dalam kerajaan Surga. Segala sesuatu yang masuk adalah Kristus, tidak ada sesuatupun dari kita yang dapat masuk. Jadi, itulah yang disebut gereja. Apapun yang ada di dalam kita dan tentang kita yang adalah Kristus dan berasal dari Kristus adalah gereja; apa pun yang bukan Kristus sendiri yang diam di dalam kita - bukanlah gereja dan tidak akan akan pernah masuk ke dalam kerajaan Surga, tetapi akan dihancurkan. Yang ada di dalam kita, yang di dalamnya terdapat kehidupan Kristus, hanya itulah yang akan dikenali dan yang akan diolah. Dan hanya elemen inilah yang dapat bekerja sama dengan Allah – Terjemahan bebas dari GOD'S WORK (Bab 1, Watchman Nee), mia wenas

Kamis, 14 Agustus 2008

Mengapa Harus Berdoa

Watchman Nee

Ketika Allah bekerja, Ia melakukannya dengan aturan-aturan.Walaupun Ia bisa melakukan apa saja yang dikehendakiNya, Ia tidak bertindak sembarangan. Ia selalu bertindak sesuai dengan hukum dan prinsipNya yang pasti. Tanpa perlu diragukan, Ia bisa mengabaikan semua hukum dan prinsip ini karena Ia adalah Allah dan Ia mampu untuk bertindak sesuai dengan kehendakNya. Namun demikian, kita temukan dalam Alkitab satu kenyataan yang sangat mengherankan. Walaupun Ia mampu bertindak menurut kehendakNya, Ia selalu bertindak menurut prinsip atau hukum yang telah Ia tetapkan. Nampaknya Ia membatasi diriNya sendiri untuk diatur oleh hukum-hukumNya. Apa yang menjadi hukum atau prinsip yang mengatur tindakan Allah? Doa. Allah menghendaki manusia untuk bekerja sama dengan Dia melalui doa.

Seorang Kristen yang tahu cara berdoa pernah mengatakan bahwa semua pekerjaan rohani selalu melalui empat tahap.

  • Tahap pertama: Allah mempunyai rencana atau kehendak.
  • Tahap kedua: Allah menyatakan kehendakNya ini kepada kita, anak-anakNya, melalui Roh Kudus sehingga kita tahu apa yang Ia kehendaki.
  • Tahap ketiga: kita menyatakan kehendakNya di dalam doa kita kepada Dia. Kita menanggapi, kita "mengembalikan" kehendakNya dengan cara berdoa kepada Allah. Doa adalah tanggapan kita terhadap kehendak Allah. Doa harus lahir dari Allah dan kemudian harus ditanggapi oleh kita untuk kemudian kembali kepada Allah.
  • Tahap keempat: Allah menjawab doa kita, melakukan apa yang menjadi kehendakNya.

Hanya doa yang seperti itu yang berarti. Semua pekerjaan Allah diatur oleh doa yang demikian. Betapa banyak yang Allah ingin untuk dilakukan, tetapi Ia tidak melakukannya karena umatNya tidak berdoa. Ia akan menunggu sampai manusia setuju dengan Dia. Ini adalah prinsip yang penting di dalam pekerjaan Allah dan merupakan satu dari beberapa prinsip paling penting di dalam Alkitab.

  • Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa - Yakobus 2:4
  • Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu - Yohanes 16:24
  • Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya - Matius 7:11
  • Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. - Yohanes 15:7
  • Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya - Yohanes 14:14

Selasa, 29 Juli 2008

Orang Benar Yang Kalah

Pelajaran Dari Kehidupan Lot

"dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian, tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa"
II Petrus 2:6-8



Saya ingin menceritakan sebuah kisah tentang seorang yang kalah, yang juga merupakan orang benar. Sebab ada orang benar yang kalah, sama seperti ada orang benar yang menang. Jika kita ingin berada di antara orang-orang benar yang menang, kita harus mengambil cerita tentang "orang benar yang kalah" ini sebagai suatu peringatan yang serius bagi kita.

Orang benar yang kalah ini adalah Lot. Lot adalah orang benar yang hatinya tersiksa setiap hari oleh kelakuan-kelakuan bejat yang ia lihat dan yang ia dengar. Sebagai orang benar, mengapa selanjutnya Lot menjadi seorang yang kalah?

Marilah kita perhatikan siapa Lot sebenarnya, karena ia sendiri bukan seorang yang terkenal atau seorang yang luar biasa. Kita mengenalnya terutama karena pamannya yang terkenal, yaitu Abraham.


Asal Mula Lot

"Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana." (Kejadian 11:31). Jika kita juga membaca di Kisah Para Rasul pasal 7, kita akan mengetahui bahwa ketika Abram masih tinggal di Mesopotamia - sebelum ia ke Haran - Allah menampakkan diri kepadanya, memanggil ia untuk meninggalkan lingkungannya dan keluarganya untuk pergi ke tempat yang akan ditunjukkan Allah. Jadi Abram meninggalkan Ur-Kasdim untuk pergi ke Kanaan. Tetapi tidak hanya ayahnya, bahkan keponakannya, yaitu Lot, ikut bersama Abram. Jadi kita dapat menganggap kehidupan Lot seperti seorang jemaat gereja atau anggota keluarga dari seorang percaya. Karena pamannya - yang sekarang menjadi seorang yang takut akan Allah - menyatakan bahwa ia harus meninggalkan Ur-Kasdim - sebuah kota yang tidak bermoral dan kota yang berdosa di hadapan Allah - maka Lot meninggalkan kota tersebut. Karena pamannya memutuskan untuk pergi ke Kanaan, Lot juga ikut ke Kanaan.

Menurut tradisi Yahudi, keluarga Terah juga termasuk salah satu penyembah berhala. Sehubungan dengan hal ini, marilah kita perhatikan bahwa di dalam kitab Yosua terdapat informasi berikut: "Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan....." (Yosua 24:2,3). Setelah mendengar pamannya mengatakan bahwa ia ingin memisahkan diri dari dunia dan menjalani kehidupan yang baik, Lot mengikuti tindakan pamannya tersebut dengan keluar dari Ur-Kasdim bersama-sama.

Di antara para pembaca mungkin ada beberapa yang tidak pernah mendapat panggilan Allah secara pribadi, tetapi ikut keluar dari kehidupan dunia karena mengikuti saudaranya yang mendengar panggilan Allah. Lot sendiri adalah seorang yang tidak secara langsung mendengar panggilan Allah; ia cuma mengikuti pamannya, Abram, yang mendapat panggilan tersebut. Mungkin ayah atau kakak atau adik atau isteri saudara yang lebih dulu percaya kepada Allah, baru kemudian saudara mengikuti tindakan mereka. Kalau demikian, saudara adalah "Lot". Tidak baik bagi saudara untuk menolak mengikuti salah seorang anggota keluarga yang percaya kepada Allah; sebaliknya sangat baik jika saudara mengikutinya dalam iman.

Lot memberikan teladan yang baik dalam hal ini karena ia tidak hanya mengikuti pamannya, tetapi ia sendiri menjadi orang benar. Kita dapat menyamakan Abram dengan orang percaya senior, dan Lot dengan orang percaya yunior. Mereka mempunyai iman yang sama karena mereka bersaudara secara jasmani. Permulaan kedua pria ini sangat membesarkan hati. Tetapi, selanjutnya mereka berpisah, dan kerohanian mereka menyimpang jauh. Mengapa?

Pilihan Lot

"Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama." (Kejadian 13:5,6). Selalu mudah untuk menanggung penderitaan bersama-sama, tetapi sangat sukar untuk menikmati kemakmuran bersama-sama. Kedua orang ini keluar dari Ur-Kasdim bersama-sama dan masuk ke Kanaan bersama-sama. Betapa indahnya. Allah sangat memberkati mereka sehingga harta milik mereka berlipat ganda. Dengan bertambahnya harta benda ini timbul suatu masalah. Tanah tempat tinggal mereka tersebut tidak dapat menampung mereka bersama-sama. Padang rumput yang tersedia hanya cukup untuk ternak-ternak milik salah seorang dari mereka.

Walaupun mereka sendiri tidak saling mengatakan sesuatu terhadap yang lain, hamba-hamba mereka bertengkar karena masalah padang rumput: "Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot." (Kejadian 13:7a). Masing-masing mengklaim daerah penggembalaan yang sama. Mereka tidak dapat tinggal bersama karena harta benda mereka terlalu banyak. Banyak orang Kristen yang seperti ini sekarang - seperti kedua orang ini - dapat meninggalkan Ur-Kasdim bersama-sama tetapi mereka segera berselisih pendapat setelah tiba di Kanaan.

Sambil lalu, izinkan saya mengatakan bahwa ada sejumlah tempat di dalam Alkitab yang menyatakan dunia: Kasdim, sebagai contoh, mewakili kekacauan dunia; Sodom dan Gomora mewakili kenikmatan dosa dunia; dan Mesir mewakili dunia di bawah pengaruh kekejaman iblis. Ketiga tempat ini melambangkan dunia, tetapi masing-masing mewakili satu segi khusus dari dunia. Lot rela meninggalkan Kasdim yang penuh kekacauan, tetapi tidak rela melepaskan sesuatupun setelah tiba di Kanaan. Betapa banyak di antara kita, sebagai orang Kristen, yang bersikap demikian. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita enggan melepaskan ketenaran dan posisi kita di dalam kerohanian. Dan karena alasan ini, banyak terjadi pertengkaran di dalam Gereja. "Maka berkatalah Abram kepada Lot: 'Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau ? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." (Kejadian 13:8,9). Salah satu penyebab kegagalan orang Kristen adalah karena mereka tidak dapat tinggal bersama-sama. Jika saudara menemukan bahwa saudara sendiri tidak dapat bersekutu dan tinggal bersama dengan orang Kristen lainnya, atau jika saudara menganggap sanak keluarga jauh lebih baik dari saudara di dalam Kristus, atau jika saudara menghindar dari orang-orang Kristen lainnya yang bersekutu maka semua ini membuktikan bahwa ada sesuatu yang salah dengan kehidupan rohani saudara. Kegagalan saudara untuk bersekutu dengan orang Kristen lain adalah tanda yang jelas dari kekalahan saudara.

Semua kesalahan ada pada pihak Lot. Abram adalah kepala keluarga, sementara Lot hanya seorang anak muda. Lebih jauh, semua yang dimiliki Lot sebenarnya datang lewat pamannya. Seharusnya ia melarang para gembalanya bertengkar dengan para gembala Abram. Abram menyadari bahwa ia tidak boleh bertengkar; dan ini dianggap sebagai kemenangannya. Seharusnya Lot mengakui bahwa lebih baik ternaknya kelaparan dari pada ia harus meninggalkan pamannya. Hanya satu keluarga di Kanaan yang percaya kepada Allah; bagaimana mungkin ia dapat memisahkan diri dari keluarga tersebut ? Sayangnya, Lot tidak berpikir seperti itu. Ia menganggap padang rumput untuk ternak dan dombanya lebih penting dari pada kesatuan keluarga. Lebih baik baginya untuk kehilangan persekutuan dengan pamannya dari pada kehilangan ternak dan domba-dombanya; ia lebih suka meninggalkan kehidupan rohaninya dalam keadaan mundur dari pada menderita karena kehilangan harta bendanya; ia lebih suka membiarkan pamannya, Abram yang takut akan Allah, pergi dari pada membiarkan salah satu ternaknya hilang. Tetapi yang lebih buruk lagi, kita melihat bahwa setelah pamannya memberikan ia pilihan, ia lebih suka memilih yang lebih baik dan meninggalkan yang buruk untuk pamannya.

"Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar." (Kejadian 13:10). Di sini, uang atau kekayaan menjadi pertimbangan utama. Sebelumnya kita menyaksikan seorang muda yang mengikuti pamannya dengan berani. Tetapi, setelah beberapa lama, kita melihat ia merasakan kesenangan dunia. Akan nampak bahwa sekarang Lot dapat lebih mudah untuk mengenyampingkan imannya di dalam Tuhan dan persekutuannya dengan orang-orang kudus - ia "melihat bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya" - dan tidak merasa keberatan jika ternak Abram tidak mendapat padang rumput yang baik. Tidak, Lot hanya memikirkan miliknya sekarang.

Sampai di sini saya ingin bertanya, sudah berapa lama saudara percaya kepada Tuhan; saya cuma ingin mengatakan bahwa saat ini Allah menempatkan dua jalan di depan saudara. Ia menempatkan dunia di depan saudara sama seperti tanah Kanaan yang Ia janjikan. Dan Ia menunggu untuk melihat apa yang saudara pilih.

Lot melihat semua Lembah Yordan, sampai ke Zoar, dan nampaknya "seperti taman TUHAN". Ya, memang, lembah tersebut nampak seperti Taman Eden milik Tuhan. Bukankah demikian juga dunia ini pada umumnya? Sodom dan Gomora menyatakan kenikmatan dosa dari dunia. Betapa banyak orang-orang dunia yang mencari berbagai macam kesenangan di dalam dosa !

"Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu" (Kejadian 13:11a). Lot memilih seluruh Lembah Yordan karena, seperti dunia, banyak berkatnya, banyak kemuliaan dan kesenangan. Bukankah itu benar-benar mirip dengan taman TUHAN? Pernah saya bertanya pada seorang saudara, apa yang ia rasakan ketika berbuat dosa. Ia menjawab bahwa hal itu seperti merasakan kesenangan surga. Ketika seseorang mula-mula percaya kepada Tuhan, ia benar-benar tidak ingin mengerjakan banyak hal. Tetapi kemudian, ketika berbuat dosa, ia menemukan kesenangan di dalam dosa. Bagi Lot, Sodom dan Gomora nampak seperti taman TUHAN. Bukankah demikian nampaknya dunia ini bagi kita - bahkan nampak seperti surga ?

Tetapi kita membaca di ayat 10 bahwa Sodom dan Gomora juga kelihatan bagi Lot "seperti tanah Mesir"! Betapa menarik; hati nurani seorang anak Allah sanggup untuk melihat dua hal yang berbeda: bahwa dunia ini nampak seperti taman TUHAN, tetapi juga seperti tanah Mesir. Ada kesenangan, tetapi juga ada penderitaan. Kita perlu ingat bahwa orang Israel sudah pernah menjadi budak di Mesir, yang sangat menderita di bawah tangan mandor-mandor Mesir. Mereka di tekan dan dicambuk dengan kasar. Mereka bahkan dipaksa untuk membuat batu bata tanpa diberi jerami sebagai bahan yang dibutuhkan. Itulah sebabnya bangsa Israel ingin meninggalkan Mesir. Hal ini merupakan gambaran yang jelas bagi mereka yang mengasihi dunia: mereka mungkin mengalami sukacita dan berkat sehingga seolah-olah berada di dalam taman TUHAN; tetapi hati nurani mereka tidak memberi sukacita. Betapa banyak orang Kristen saat ini yang mengalami kesenangan pada satu sisi tetapi pada sisi lain merasakan ketidaktenangan di dalam hati nurani ketika berbuat dosa - mengalami kesenangan dan sukacita dari taman TUHAN pada satu sisi, tetapi merasakan tekanan yang keras dan kekejaman dari Mesir pada sisi yang lain !

Izinkan saya bertanya pada orang-orang Kristen muda: Apa yang saudara pilih? Dunia dan kesenangannya? Allah tidak pernah memaksa saudara untuk memilih jalanNya; Ia cuma menunggu saudara untuk mengambil keputusan. Apakah saudara akan memilih Kanaan seperti yang dipilih Abram atau apakah saudara akan memilih dunia dengan kesenangan dan penderitaan sama seperti yang dipilih Lot? Yang mana akan saudara pilih untuk melewatkan hidup saudara?

Apa yang dikatakan Alkitab setelah Lot memilih seluruh Lembah Yordan? "....lalu ia berangkat ke sebelah timur..." (Kejadian 13:11b) - yang berarti bergerak ke arah Sodom, dan pada akhirnya berbicara tentang kejatuhan karena "... orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN." (Kejadian 13:13). Dengan membuat keputusan demikian, lambat laun seseorang akan bergerak ke arah timur. Tidak seorangpun yang melakukan dosa dalam satu hari; tidak ada seorangpun yang jatuh dalam sehari. Cuma semata-mata berjalan menyimpang sedikit hari ini, kemudian menyimpang sedikit lagi besok sampai akhirnya berdosa dan jatuh. Bagi Lot, dengan memilih Lembah Yordan membuatnya lebih mudah untuk menjaga ternaknya; air relatif lebih banyak tersedia dan tidak ada bukit yang harus didaki. Seseorang yang bergerak ke arah dunia mungkin saja hidup lebih enak; sebagai ganti kerja keras ia dapat menikmati kenikmatan dan kemudahan. Tetapi 'kemah' orang tersebut lambat laun bergerak ke arah timur.

Jika saudara sebagai orang percaya mengasihi kenikmatan dosa dunia, kaki saudara pada akhirnya akan membawa saudara ke arah dunia. Jika saudara tidak dapat menjaga langkah pertama, maka saudara tidak akan dapat menjaga langkah kedua saudara. Sejak hatimu sudah cenderung ke arah dunia, saudara tidak akan sanggup menahan kaki saudara untuk tidak bergerak sedikit demi sedikit ke arah dunia. Dengan mata saudara terpaku pada dunia, saudara tidak bisa untuk tidak berjalan ke arah dunia dan masuk ke dalamnya. Apa yang telah saudara pilih adalah dunia, dan akibatnya, saudara juga berjalan ke arah dunia.

"Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom." (Kejadian 13:12). Setelah membiarkan Lot memilih tanah yang subur, Abram terus tinggal di Kanaan - tanah tujuan yang Allah tetapkan ketika ia dipanggil dan tanah tempat Allah dapat memberkati dia dan tempat Abram dapat bertumbuh secara rohani. Sementara itu, Lot mulai tinggal di antara kota-kota Lembah Yordan - daerah yang telah ia pilih sendiri. Apakah kita seperti Abram, tinggal di Kanaan tempat Allah memanggil kita; atau kita seperti Lot, tinggal di tempat yang kita pilih sendiri?

Kristen Perbatasan

"Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom." (Kejadian 13:12b). Pada mulanya Lot mungkin berpikir bahwa sebagai orang benar ia tidak patut memilih Sodom tetapi tidak apa-apa jika memilih daerah di dekat Sodom - artinya, suatu daerah dekat Sodom, tetapi sesungguhnya bukan Sodom. Untuk tinggal di dalam kota tersebut, tanpa ragu ia mengakui bahwa hal tersebut sama sekali tidak baik, tetapi untuk tinggal di dekat kota tersebut tentunya tidak dilarang. Bukankah kita juga membuat alasan yang demikian? Kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa merupakan hal yang jelas tidak baik bagi seorang percaya untuk memilih dunia, tetapi jika kita memilih suatu tempat yang dekat dengan dunia mungkin tidak jelek. Alasan-alasan demikian membuat kita menjadi orang Kristen perbatasan; orang-orang dunia menganggap kita bukan bagian dari mereka tetapi orang-orang di Kanaan juga menganggap kita sebagai 'orang asing'. Merupakan kenyataan, bahwa orang Kristen perbatasan begitu dekat dengan dunia sehingga mereka sama sekali tidak dapat dikatakan tinggal di Kanaan. Mungkin kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, di mana kita tinggal saat ini?

Suatu saat, ketika saya sedang berada di luar daerah, saya bertanya kepada seorang prajurit mengapa beberapa resimen begitu mudah menjadi pembelot. Jawabannya adalah karena seragam mereka berwarna abu-abu. Warna ini, sebagaimana kita ketahui, adalah perpaduan antara hitam dan putih; jadi bukan hitam dan bukan juga putih. Sayangnya, banyak orang Kristen yang seperti warna abu-abu ini. Mereka nampaknya berada di taman TUHAN, tetapi mereka muncul juga di tanah Mesir. Mereka melekat kepada dunia sama seperti melekat kepada Allah.

Izinkan saya bertanya kepada saudara - di sisi mana saudara berada? Apakah saudara seorang Kristen abu-abu, tidak putih dan juga tidak hitam? Ketika orang-orang dunia bertemu dengan saudara, apakah mereka mengeritik atau mengejek saudara sebagai orang-orang yang 'ketinggalan zaman' karena saudara terlalu berbeda dengan mereka? Betapa sangat menyakitkan jika orang-orang berkata, "Kami pikir, sebagai orang Kristen, seharusnya saudara sangat berbeda dengan kami, tetapi pada kenyataannya saudara sama dengan kami!" Hal tersebut adalah pernyataan memalukan tentang orang Kristen dari seorang duniawi. Banyak orang percaya yang tidak rela untuk berdiri dan mengakui bahwa mereka adalah milik Kristus. Mereka menghibur diri mereka dengan pikiran bahwa tidak penting untuk mengatakan hal tersebut. Di satu sisi, mereka tidak mau meninggalkan taman TUHAN, dan di sisi lain mereka tetap setia kepada tanah Mesir. Mereka menganggap diri mereka Kristen karena setiap Minggu pagi pergi ke kebaktian gereja dan menyediakan lima menit pembacaan Alkitab setiap hari. Tetapi di dalam kehidupan mereka tidak ada persekutuan Kristen; mereka tidak dapat melepaskan diri mereka dari ikatan terhadap segala harta milik mereka. Hendaknya kita meminta Allah melepaskan kita dari tindakan berbahaya ini.

Apakah Lot mengetahui keadaan di Sodom? Pasti ia mengetahuinya, karena orang-orang Sodom ini benar-benar terkenal jahat dan sangat berdosa kepada Allah, seperti catatan Alkitab yang membuat hal ini jelas: "Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN." (Kejadian 13:13). Namun dengan mengabaikan apa yang ia ketahui tentang kebejatan di sana, Lot bergerak sedikit demi sedikit ke arah Sodom dan, seperti yang akan kita lihat, Lot sebenarnya bergerak ke dalam kota tersebut. Pada waktu kaki saudara bergerak menjauhi orang-orang Kristen lainnya, 'tenda' saudara secara lambat namun pasti bergerak mendekati Sodom dunia ini. Saudara bahkan tidak akan membenci lagi apa yang Allah benci; saudara tidak akan lagi menganggap salah apa yang Allah anggap salah, pada saat kaki saudara secara berangsur-angsur bergerak menjauh dan menjauh ke arah timur.

Ada suatu peribahasa di antara orang-orang Cina Utara yang mengatakan: Jangan takut pada gerakan yang lambat, tetapi takutlah pada keadaan tetap berdiri. Ironisnya, tetap berdiri adalah apa yang ditakuti setan; di pihak lain, bergerak lambat memberikan kesempatan bagi keinginan setan, karena dari sinilah pencobaan datang. Abaikan sedikit suara hatimu hari ini dan abaikan sedikit lagi besok; kurangi sedikit pembacaan Alkitab saudara hari ini dan kurangi lagi sedikit pada keesokan harinya; kurangi sedikit waktu doa saudara hari ini dan kurangi sedikit lagi keesokan harinya; kurangi sedikit kegiatan bersaksi saudara hari ini dan kurangi sedikit lagi keesokan harinya. Demikianlah caranya saudara undur. Setan tidak akan secara tiba-tiba menghalangi pembacaan Alkitab saudara, waktu doa saudara, atau kegiatan bersaksi saudara. Tidak! Sebagai gantinya ia akan menarik saudara ke belakang sedikit demi sedikit. Dan walaupun lambat laun, ia paling sabar untuk melakukan hal ini.

Akhirnya Lot Tinggal di Sodom

Sekarang setelah tenda Lot bergerak dengan lambat namun pasti ke arah Sodom, bahaya apa yang dihadapinya ? "... empat raja lawan lima. Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan. Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan di rampas musuh, lalu mereka pergi. Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi - sebab Lot itu diam di Sodom" (Kejadian 14:9-12). Selama peperangan yang diceritakan di sini antara gabungan lima raja melawan empat raja, kelima raja tersebut kalah. Dalam proses ini Lot dan segala miliknya dibawa pergi.

Sekarang, ia menemui bencana karena pada waktu itu ia sudah tinggal di dalam Sodom. Pada mulanya, Lot hanya tinggal di dekat Sodom sebagai orang yang masih tetap percaya kepada Allah. Ia merupakan seorang yang belum memasuki kota Sodom tetapi tinggal di dekat kota tersebut. Garis batasnya masih jelas. Tetapi kita tahu dari cerita tersebut bahwa pada akhirnya Lot berdiam di dalam Sodom. Pada mulanya kita melihat ia tinggal di luar kota, tetapi sekarang ia sudah masuk ke dalam kota tersebut. Pada mulanya saudara masih memiliki ciri sebagai orang Kristen tetapi sekarang saudara sudah menjadi warga kota Sodom. Berdosa sedikit di sini dan berdosa sedikit di sana, dan saudara akan ditarik semakin dekat ke arah Sodom dunia ini. Dan setelah beberapa lama, saudara akan merasa bahwa desa di dekat kota Sodom yang saudara pilih tersebut tidak sebaik dan menguntungkan seperti kota Sodom sendiri, dan bahwa Lembah Yordan tidak begitu cocok sebagai tempat tinggal seperti kota Sodom.

Ada suatu cerita tentang seorang anak yang diberi enam buah permen oleh ibunya, yang baru boleh dimakan keesokan harinya. Anak tersebut meletakkan permen di hadapannya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak berani memakan keenam permen tersebut hari ini, tetapi ia tidak dapat menahan keinginan untuk menikmatinya. Jadi ia mulai menjilat setiap permen tersebut dengan lidahnya. Pada mulanya, masih ada enam buah permen. Tetapi permen-permen tersebut lama-lama menjadi kecil. Lalu anak tersebut mulai memakan satu buah dan meninggalkan yang lima; memakan dua dan meninggalkan tiga; dan akhirnya ia memakan semuanya. Demikianlah caranya banyak orang Kristen yang pada akhirnya berbuat dosa. Abaikan bisikan hati nurani sekali, lalu dua kali, dan tanpa sadar mereka bergerak lambat laun menuju dunia untuk mencari kesenangannya. Orang-orang Kristen perlu diingatkan satu hal: dosa bukanlah sesuatu yang dilakukan sekali dan kemudian berhenti. Karena sekali dosa dilakukan, hal itu akan menyebabkan suatu keinginan yang kuat untuk berbuat dosa lagi. Setiap kali seseorang berbuat dosa, akan timbul dua hal: pertama, timbul kesenangan atas dosa; dan kedua, timbul keinginan yang kuat untuk berbuat dosa lagi. Tepat seperti Lot yang lambat laun bergerak menuju Sodom dan akhirnya masuk ke dalam kota Sodom, maka kita juga bisa lambat laun bergerak dan akhirnya masuk ke dalam kota-kota dunia pada suatu saat nanti. Janganlah kita membohongi diri kita dengan berpikir bahwa kita tidak dapat berbuat dosa sedemikian rupa sehingga menempatkan diri kita sendiri ke dalam dunia. Jika saudara dan saya berada di manapun di dekat Sodom duniawi, maka akhirnya kita akan memasuki halamannya. Paling baik kalau kita tidak berbuat dosa. Jika kita berbuat dosa, kita tidak akan mempunyai kuasa untuk menguasai diri kita agar tidak berbuat dosa lagi.

Peringatan Allah

Allah tidak gagal dalam memberi peringatan yang cukup bagi Lot tentang masa depan. Kenyataan bahwa Lot telah ditangkap sebagai tawanan setelah kekalahan lima raja adalah peringatan Allah bahwa Sodom bukanlah tempat tinggal Lot untuk selanjutnya. Izinkan saya berkata terus terang bahwa sangat mungkin Allah sedang memperingatkan saudara ketika ada penyakit atau suatu masalah di dalam keluarga saudara atau ketika kegagalan bisnis menimpa saudara. Jika saudara seorang Kristen tetapi saudara setiap hari ditarik ke arah dunia, Allah akan memakai beberapa cara untuk membuat saudara bertobat dan kembali kepadaNya, seperti yang Ia lakukan terhadap Lot.

Sayangnya, seperti Lot dalam masa hidupnya, banyak orang percaya saat ini yang tidak peka. Walaupun mereka sakit, mempunyai masalah di rumah, dan/atau menderita bencana keuangan, mereka nampaknya tidak sadar bahwa ini semua mungkin adalah cambukan disiplin Allah untuk membuat mereka bertobat. Dan jika mereka tidak berubah, mereka akan mendatangkan kehilangan yang lebih besar, seperti yang kita lihat di dalam kasus Lot.

Ada seorang saudara yang berangsur-angsur menjadi dingin di dalam kehidupan kekristenannya. Suatu hari, seorang saudara mendorong dia agar tidak undur rohani lagi. Tetapi jawabannya adalah ini: "Tidak menjadi soal. Bukankah si Ini dan si Itu, yang mula-mula semangat, juga menjadi suam? Sekarang umurnya enam puluh tahun, dan anak laki-laki tertuanya, setelah lulus dari perguruan tinggi, tiba-tiba meninggal; akibatnya orang tua ini sekarang bangkit lagi rohaninya!". "Jika ini yang kau inginkan untuk terjadi, Allah akan mengabulkan permohonanmu," kata saudara yang lain. "Oh, tidak, saya tidak menginginkan hal itu !" teriaknya.

Perlu dikatakan bahwa Allah akan mendisiplinkan saudara jika saudara adalah milikNya sementara saudara tetap bersikeras untuk tinggal di dalam dosa-dosa dunia. Saudara mungkin akan menderita penyakit atau mengalami masalah di rumah saudara atau menderita kemunduran usaha saudara. Jika demikian, sebaiknya saudara segera mencari Allah untuk mengetahui apakah masalah-masalah ini terjadi karena saudara meninggalkan Dia. Dan jika demikian, saudara harus kembali kepadaNya, secepat mungkin saudara bisa! Seringkali jika kasih Allah tidak dapat menarik saudara, maka Allah akan menghajar saudara supaya saudara kembali. Jika FirmanNya gagal untuk menggerakkan saudara, Ia akan menggunakan penderitaan untuk menekan saudara agar kembali kepadaNya. Sebab Ia tidak akan membiarkan saudara pergi tanpa berusaha membawa saudara kembali. Sayangnya, Lot tidak memperhatikan peringatan Allah, tetapi pergi kembali ke Sodom setelah Abram menolongnya dan keluarganya.

Akhir Kehidupan Lot

"Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom..." (Kejadian 19:1). Menurut kebiasaan negara-negara Timur pada waktu itu, persoalan-persoalan penduduk diadili di pintu gerbang kota (pengadilan tradisi modern belum ada). Orang-orang terkenal dipilih sebagai tua-tua dan hakim-hakim. Dan mereka duduk di pintu gerbang kota untuk mengadili masalah-masalah apa saja yang timbul di antara penduduk. Dan karena Lot duduk di pintu gerbang Sodom, jelaslah bahwa Lot sudah diangkat. Ia tidak lagi seorang awam, tetapi seorang hakim di Sodom. Kedudukannya di dalam dunia sudah meningkat. Demikianlah cara bekerjanya dosa: pada mulanya Lot hanya berada di dekat kebejatan, kemudian ia masuk ke dalam kota, dan selanjutnya ia menjadi hakim!

Bagaimana akhir kehidupan Lot? Walaupun ia sendiri oleh kemurahan Allah diselamatkan malaikat-malaikat Allah, isterinya mati ketika di dalam perjalanan keluar dari Sodom; anak anak perempuannya, setelah keluar dari Sodom, kemudian secara sengaja melakukan percabulan dengannya ketika ia sedang mabuk; dan menantu-menantunya, yang menolak untuk diselamatkan, mati terbakar karena penghancuran yang Allah lakukan terhadap kota-kota di Lembah.

Surat Petrus yang kedua menyatakan berulang-ulang bahwa Lot adalah orang benar: "tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-rang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, sebab rang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa" (II Petrus 2:7,8). Tetapi orang benar ini sudah menjadi warga orang-orang jahat, Sodom dunia! Ia harus mencucurkan air mata karena perbuatan orang-orang Sodom yang tidak benar, tetapi ia tidak mau mencucurkan air mata untuk dirinya sendiri! Ia mengalami "tekanan yang menyakitkan" karena orang lain, tetapi ia tidak mau untuk "tersiksa jiwanya" karena dirinya yang berada dalam keadaan genting. Ketika ia melihat kebejatan yang luar biasa dari warga kota Sodom, ia berpikir untuk menolong mereka dengan membiarkan dirinya menjadi salah seorang hakim mereka, tetapi itu jelas merupakan tugas yang sia-sia (lihat Kejadian 19:1-11). Bukankah banyak orang Kristen yang demikian saat ini? Mereka sendiri sudah gagal, namun demikian mereka tetap berusaha untuk meyakinkan orang-orang lain untuk mengikut Tuhan Yesus!

Akhirnya kita tahu bahwa Allah memutuskan untuk menghancurkan kota Sodom, tetapi Ia mendengar doa Abraham dan mengirim dua malaikat untuk membebaskan Lot: "Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: 'Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka ke luar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.' Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: 'Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.' Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja." (Kejadian 19:12-14). Kalimat terakhir ini menyingkapkan kenyataan yang menyedihkan bahwa Lot tidak mempunyai kesaksian yang sejati di hadapan menantu-menantunya, karena mereka menganggap peringatan Lot hanyalah olok-olok kepada mereka belaka. Siapa yang dapat percaya bahwa akan ada api turun dari langit?

"Ketika ia berlambat-lambat.... (Kejadian 19:16a). Betapa banyak yang disingkapkan kata-kata ini tentang Lot! Seolah-olah pada saat itu ia berpikir: "Dengarkan, ternak-ternakku; untuk kepentinganmu aku memisahkan diri dari Abraham; untukmu aku memilih Lembah Yordan. Perhatikan, domba-dombaku; kalian sudah bersama saya selama bertahun-tahun; bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan kalian sekarang ?" Dan dengan melihat sekali lagi kepada perlengkapan rumahnya, barang-barangnya, dan mungkin juga lumbungnya, ia pasti berkata kepada dirinya sendiri: "Aku kira aku dapat tinggal di Sodom untuk beberapa lama lagi. Aku sedang merencanakan untuk membangun gudang yang lebih besar di luar kota untuk menyimpan semua persediaan makanan, barang-barang dan harta milikku. Dan aku dapat berkata kepada jiwaku, Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Bagaimana init? Sekarang saya harus meninggalkan semuanya di belakang ?!? Betapa saya tidak rela untuk meninggalkan semua yang baik-baik ini !" (bandingkan dengan Lukas 12:19).

"Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: 'Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.'" (Kejadian 19:16,17). Kata-kata ini diberikan kepada mereka setelah kedua malaikat membawa mereka ke luar kota. Saat ini mungkin saudara berada di dalam dunia, dan walaupun saudara tidak memiliki banyak harta, saudara dapat juga dengan mudah berlambat-lambat di dalam dunia sementara bencana sudah di ambang pintu, sama seperti yang dikerjakan Lot!

Ada seorang wanita tua yang mempunyai lima belas dollar. Setiap hari ia selalu menghitung ke lima belas dollar miliknya tersebut. Kita mungkin akan tertawa melihat dirinya yang begitu gila uang. Tetapi kepada mereka yang saat ini begitu mendewakan segala macam sertifikat, ijazah, dan dokumen keuangan lainnya yang tersimpan di dalam laci lemari mereka, Allah di sorga juga tertawa, sama seperti kita mentertawakan wanita tua tersebut. Buat kita, lima belas dollar tidak berarti; bagi Allah, laci yang penuh dengan segala macam sertifikat dan harta-harta dunia juga tidak berarti apa-apa.

Tuhan Yesus segera datang. Dan penghancuran Sodom, seperti yang Ia katakan, adalah gambaran dari penghancuran dunia ini yang akan datang (lihat di bawah). Jika semua harapan saudara dibangun di dunia ini, entah besar atau kecil, suatu hari semua ini akan dibakar api yang datang dari sorga. Suatu hari Allah akan menghancurkan semuanya. Dan pada saat hari itu tiba, tidak seorangpun yang bisa lolos. Izinkan saya berkata dengan jelas di sini, bahwa apa yang tidak mau dilepaskan oleh orang percaya dengan rela pada saat ini (seperti sikap Lot) harus dilepaskan pada saat itu. Pada waktu pengangkatan orang-orang percaya, Allah hanya mengangkat manusia, bukan barang-barang. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa rela melepaskan segala sesuatu saat ini.

"Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam." (Kejadian 19:26). Isteri Lot tetap melakukan keinginan suaminya: ia menoleh ke belakang. Walaupun ia tidak lagi dapat melihat barang-barangnya, ia tetap sangat ingin melihat tempat dimana ia hidup; tetapi sekarang tempat tersebut sudah habis di dalam asap. Oh, pandangan matanya menyingkapkan di mana sebenarnya hatinya berada. Oh, pandangan ke belakang ini menyatakan banyak cerita yang tersembunyi dan menyingkapkan banyak perasaan di dalam hatinya! Dan pada waktu melihat ke belakang, ia menjadi tiang garam. Hal ini menjadi peringatan yang besar dan sangat serius bahkan sampai saat ini! Tuhan kita mengatakan: "Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikanlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diriNya......... Ingatlah akan isteri Lot (Lukas 17:29-32). Pada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali, dunia ini akan dihakimi, dan semua yang ada di dunia akan dibakar. Semua yang mencintai dunia akan menjadi tiang garam seperti isteri Lot dahulu.

Saya percaya bahwa sebagai orang Kristen kita terlalu banyak memberi perhatian kepada hal-hal yang tidak berarti dan mengabaikan hal-hal yang kekal. Kita begitu disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sosial, transaksi bisnis, dan pendidikan anak-anak. Memang kita harus memperhatikan pendidikan anak-anak kita dan kepentingan usaha kita; tetapi kita harus tetap memperhatikan hal-hal yang kekal. Secara khusus saya ingin menyampaikan beberapa kata bagi orang-orang muda. Jalan di depan saudara mungkin masih panjang. Jika Tuhan belum datang, pilihlah jalan yang benar untuk saudara lalui. Berikan perhatian khusus saat ini kepada segala sesuatu yang berharga, yang kekal, dan yang dari Allah. Jangan harapkan kemuliaan saat ini, tetapi belajar untuk semakin dekat kepada Allah sehingga saudara dapat menyelesaikan kewajiban saudara dengan baik yang masih terletak di depan saudara. Dan bagi kita semua saya ingin mengulangi kata-kata Tuhan kita Yesus yang sangat serius: "Ingatlah akan isteri Lot!"


Terjemahan dari FROM FAITH TO FAITH by Watchman Nee (Bab 8, A Defeated Righteous Man), jcb, 30121992.